Pedoman Penulisan Fonetik Bahasa Aceh

Penulisan fonetik dalam bahasa Aceh terbagi menjadi vokal, vokal sengau, diftong, dan konsonan.

Kegigihan Sang Teuku Umar dalam Memperjuangkan Kemerdekaan

Bagi penggemar sejarah tentu anda akan tertarik untuk membaca buku ini, sebagaimana buku ini mengisahkan tentang berbagai peristiwa panglima aceh dalam memperjuangkan kemerdekaan...

Kebangkitan Bahasa dan Sastra Aceh

Harian Serambi Indonesia edisi, Jumat 16 Desember 2022 merilis berita dengan judul Mulai Dari Pemanfaatan Pangan Lokal Hingga Makna ‘Rateb Doda Idi’

Hermeneutika dan Positivisme Logis

Filsafat telah membawa perubahan yang begitu penting dalam dunia pendidikan.

Showing posts with label Bahasa. Show all posts
Showing posts with label Bahasa. Show all posts

Bengkel Sastra: Mencetak Calon Pujangga

Oleh Rahmad Nuthihar 

Sebanyak 30 siswa yang berasal dari sekolah menengah pertama di Kota Banda Aceh dipertemukan dalam satu forum. Kedatangan putra-putri pilihan dari sekolah tersebut bertujuan mendalami penulisan puisi dalam forum bengkel sastra yang dilaksanakan oleh Balai Bahasa Provinsi Aceh. Bengkel sastra penulisan puisi, diampuh oleh dua narasumber, yakni penulis sendiri (Rahmad Nuthihar) dan Hidayatullah. 

Pelatihan penulisan puisi berlangsung selama 4 pertemuan yang mana pertemuan pertama dilaksanakan pada bulan Ramadan. Kegiatan dijeda setelah libur Idulfitri dan dilanjutkan kembali pada tanggal 20 April dan akan ditutup pada 27 April 2024. Meskipun baru berlangsung selama tiga kali pertemuan, bakat sebagai pujangga sudah mulai terlihat dari putra-putri yang berdomisili di Provinsi Aceh. Puisi-puisi yang disusun oleh pelajar ini sudah mulai terlihat puitis. Pemilihan kata, majas, serta amanat yang terkandung dalam puisi yang mereka susun tidak kalah menarik dengan puisi yang dimuat di media massa. 


Gambar artikel yang dimuat di Waspada

Sesuai dengan pilihan kata berupa ‘bengkel’ tempat melakukan suatu kegiatan dengan arah dan tujuan yang pasti (KBBI), dalam kegiatan ini menitikberatkan pada keterampilan menulis. Narasumber hanya memberikan materi pada pertemuan pertama. Selanjutnya, pelatihan difokuskan membedah puisi yang disusun oleh para siswa. Tidak hanya narasumber yang memberikan masukan, para siswa lainnya juga diberikan kesempatan guna memberikan kritik ataupun saran yang konstruktif terkait puisi yang ditulis oleh temannya. 

Pelatihan didesain mengedepankan suasana keakraban. Walaupun antara narasumber dan peserta terpaut usia puluhan tahun, peserta dipersilakan memanggil narasumber dengan sapaan Kak, Bang, ataupun Abang. Hal ini dilakukan guna menghilangkan sekat jarak dan berorientasi pada luaran yang dihasilkan berupa puisi. 

Setiap puisi yang telah disusun tidak luput dari pembahasan yang dilakukan. Narasumber juga meminta para peserta agar mengutamakan etika menulis. Narasumber melarang para peserta menciplak ataupun plagiat terhadap karya orang lain. Hal itu disebabkan tindakan plagiat merupakan perilaku tercela yang berdampak negatif serta membekas bagi individu ke depannya. Jika puisi yang ditulis oleh siswa ini terlihat bagus, pertama kali yang ditanyakan apakah benar itu karya sendiri? Untuk memastikan karya tersebut orisinal, penggalan bait puisi dimasukkan di Google guna ditelusuri kepemilikan asli puisi tersebut. Narasumber memotivasi “Sejelek-jeleknya karya adalah mirik sendiri bukan berbangga hati dengan karya bagus punya orang lain. 

Keaslian tulisan sangat diutamakan dalam bengkel sastra ini. Karya para peserta ini nantinya akan dibukukan serta diterbitkan dalam bentuk antologi. Validasi karya dan bebas dari jiplakan harus menjadi penilaian utama dalam menyortir puisi yang ditulis oleh siswa. Hal ini diperlukan agar terhindar permasalahan di kemudian hari. 

Menulis puisi bukan sekadar merangkaikan kata agar indah dan menarik dibaca. Puisi yang haruslah dikonstruksi dari unsur kebahasaan dan unsur intrinsik. Merujuk pada teori Waluyo, unsur kebahasaan puisi meliputi (1) pemadatan makna, (2) pilihan kata, (3) kata konkret, (4) pengimajinasian, (5) irama, dan tipografi. Selanjutnya, dari unsur intrinsik sebuah puisi haruslah dibangun dari (1) tema, (2) nada dan suasana (3), perasaan, dan (4) amanat. Kedua  unsur pembangun puisi tersebut merupakan fondasi agar konstruksi puisi benar-benar bernilai sastra.  

Peningkatan Literasi 
Bengkel sastra merupakan program Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemdikbudristek. Kegiatan ini dilangsungkan oleh setiap Balai/Kantor Bahasa yang terdapat di tiap provinsi. Merujuk pada buku Pedoman Bengkel Sastra dan Apresiasi Sastra, bengkel sastra terdiri atas penulisan puisi, penulisan pantun, penulisan prosa, penulisan drama, dan penulisan skenario film pendek. Dengan adanya bengkel sastra diharapkan minat masyarakat dalam berkarya sastra dapat ditingkatkan dan selanjutnya tumbuh apresiasi masyarakat terhadap karya sastra (Kemdikbud, 2017). 

Peserta yang telah mengikuti bengkel sastra diharapkan terus mendapat pembinaan dan kesempatan terutama dari pihak sekolah. Hal ini dilakukan dengan mengikutsertakan para alumni bengkel sastra dalam berbagai perlombaan ataupun festival, baik yang diselenggarakan oleh umum ataupun pemerintah dalam skala nasional. Dengan adanya hal ini, diharapkan peserta yang telah mendapatkan pelatihan dalam kegiatan bengkel sastra dapat menjadi katalisator bagi siswa lainnya untuk berkarya. 

Menulis karya sastra diharapkan menjadi hobi bagi para remaja. Keterampilan menulis sangat berkaitan erat dengan kemampuan literasi sebagaimana saat ini diasesmennasionalkan. Berdasarkan rilis kemdikbud pada Desember 2023 disebutkan bahwa untuk literasi membaca, peringkat Indonesia di PISA 2022 naik 5 posisi dibanding sebelumnya. 

Sesuai dengan Rapor Pendidikan Indonesia, disebutkan bahwa hasil asesmen nasional untuk literasi diperoleh jenjang SD/MI/sederajat kategori literasi sedang dengan peroleh 61,53% murid memiliki kompetensi literasi di atas minimum, naik 8.11 dari 2021 (53.42%). Kategori sedang juga berada pada jenjang SMP/MTs/sederajat 59,00% murid memiliki kompetensi literasi di atas minimum, naik 7,63 dari 2021 (51,37%), dan jenjang SMA/SMK/sederajat 49,26% murid memiliki kompetensi literasi di atas minimum, turun 4,59 dari 2021 (53,85%) (Kemdikbudristek, 2023). 

Berdasarkan hasil asesmen tersebut dibuktikan bahwa peningkatan literasi harus dilakukan untuk mencapai kategori Baik. Jenjang SMA/SMK/sederajat justru mengalami penurunan sehingga optimalisasi harus dilakukan mulai dari jenjang sebelumnya. Oleh karena itu, bengkel sastra diharapkan menjadi salah satu alternatif program untuk mencapai dan meningkatkan kompetensi literasi. 

Terakhir, karya sastra puisi bukan sekadar teks dengan peruntukkan dibaca. Puisi yang bagus dapat disajikan dalam bentuk musikalisasi, visualisasi, ataupun dinyanyikan. Kita berharap dengan adanya bengkel sastra ini akan lahir para pujangga muda yang nantinya mendunia dan membuat Indonesia bangga. Hal ini didukung dengan status Bahasa Indonesia resmi menjadi bahasa internasional UNESCO.  
Rahmad Nuthihar, PNS Dosen Kemdikbudristek unit kerja Akademi Komunitas Negeri Aceh Barat

Dipublikasikan pada Waspada edisi 23 April 2024
Share:

Resensi Buku: Kegigihan Sang Teuku Umar dalam Memperjuangkan Kemerdekaan

 


Identitas Buku


Judul   : Teuku Umar Leadership
Penulis : Zainal Putra dan Jasman J. Ma’ruf
Penerbit   : Kencana
Tahun terbi  : 2022
Tebal halaman  : 254 halaman
Ukuran buku   : 15.5 x 23 cm
ISBN : 978-623-384-183-2
Harga   : Rp100.000


Bagi penggemar sejarah tentu anda akan tertarik untuk membaca buku ini, sebagaimana buku ini mengisahkan tentang berbagai peristiwa panglima aceh dalam memperjuangkan kemerdekaan, khususnya tentang Teuku Umar. Tidak hanya itu, banyak sejarah aceh lainnya yang dibahas dalam buku ini, mulai dari masa kejayaan kerajaan Aceh Darussalam, raja-raja kerajaan Aceh Darussalam dan juga ada sejarah meletusnya perang padre di Minangkabau.

Gambar 1. Tangkapan layar resensi buku Teuku Umar yang diulas pada Youtube. 

Buku ini merupakan sebuah pembelajaran dari seorang panglima perang Aceh dan mendeskripsikan nilai-nilai kepemimpinan yang terdapat pada sosok Teuku Umar selama perjuangannya menghadapi penjajahan Belanda. Teuku Umar merupakan seorang panglima perang yang sangat gigih melawan penjajahan Belanda di bumi Aceh. Beliau sangat ditakuti oleh musuh dan menjadi buah  bibir di seluruh penjuru Nusantara. Dibalik ketokohan dan mental heroik dari seorang Teuku Umar kita dapat memetik nilai-nilai kepemimpinan  sangat relevan yang dapat kita terapkan sebagai pemimpin dalam berbagai organisani dan lintas budaya. Upayanya begitu besar dalam membangun loyalitas pengikut untuk mencapai tujuan bersama. Semangat beliau tidak pernah terkuras, begitu pula dengan sosok istrinya yang senantiasa membatu beliau dalam memperjuangkan kemerdekaan. Teuku umar sangat berpengaruh dalam memberikan motivasi kepada masyarakat aceh, beliau terus-terusan membangkitkan masyarakat aceh untuk membela tanah aceh. 




Teuku Umar lahir pada tahun 1854 M di Meulaboh,di Gampong Mesjid, sekarang bernama Gampong Belakang, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat. Ayahnya bernama Teuku Mahmud anak dari Teuku Nanta Chik, ibunya bernama Cut Mohani, puteri Teuku Suloh. Teuku Umar merupakan anak ke 3 dari 6 bersaudara, yang terdiri dari 4 orang laki-laki yaitu: Teuku Cut Amat, Teuku Putih Simalur, Teuku Umar dan Teuku Musa dan 2 orang perempuan. Namun, 2 orang saudara perempuan tidak dijelaskan namanya. Teuku Umar memilik empat orang istri, yaitu: istri pertama Cut Nyak  Meuligo, putri Teuku Abas, panglima  Seri Setia Ulama Kepala Sagi XXV Aceh Besar, Lhok Nga, istri kedua Cut Nyak Safiah, anak Teuku Imum Leupeung, istri ketigaCut Nyak Din, seorang janda muda, dan istri keempat Cut Nyak Alooh binti Teuku Maharadja Lhok Seumawe. 

 

Teuku Umar memiliki perjuangan perang yang panjang dalam menghadapi  Belanda dengan perang yang dimotori dan diikuti oleh beliau,ada beberapa peperangan yang beliau ikuti diantaranya : perang Aceh I dan II pada saat itu meletus  sekitar tahun 1873, Teuku Umar masih berusia 19 tahun sudah mengikuti perang demi mempertahankan Kutaraja sebagai utusan pemuda dari Meulaboh ,kemudian perang Meulaboh, pada tahun 1877 Teku Umar bersama dengan Teuku Chik Muda yang juga pamannya memepertahankan Meulaboh dari agresi belanda. Teuku Umar syahid pada tanggal 11 Februari 1899 saat terjadi pertempuran dengan pasukan Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Van Heutzs di daerah Suak Ujong Kalak, Meulaboh. Tapi beberapa sejarah menyatakan Teuku Umar wafat tanggal 10 Februari 1899. Adapun setelah tertembak bersibah dara dan menyadari ajalnya akan tiba, Teuku Uar berpesan kepada Pang Laot, seorang kepercayaannya: “Kutitipkan rakyat dan tanah Aceh ini sedapat yang bisa engkau kerjakan. Selamat dari cengkeraman si kafir, penjajah Belanda. Sampaikan salam dan pesanku pada Cut Nyak Dhien, istriku.” (hal:48)

 Jenazah teuku umar dibawa lari oleh pengikut setianya ke pucok lueng pedalaman Suak Raya , dan melalui reudeup dibawa ke Pasie Megat , Tanjong Meulaboh untuk dimakamkan di dekat makam ibunya.Besarnya jasa Teuku Umar dalam melawan belanda , maka pada tahun 1955 Teuku Umar diangkat oleh presiden RI sebagai pahalwan nasional , melalui surat keputusan presiden dan diperingati untuk pertama kalinya pada tahun 1957.

 Dari catatan sejarah , diketahui bahwa Teuku Umar hidup hanya sampai umur 45 tahun , dari 1854 -1899. teuku umar sudah berjuang melawan belanda sejak umur 19 tahun .berarti secara keseluruhan ia telah berjuang selama 26 tahun melawan kafir Belanda.

Kepemimpinan Teuku Umar  (Teuku Umar Leadership) dapat kita kupas bahwa sanya beliau memiliki sejumlah karakteristik kepemimpinan yang sangat berpengaruh terhadap pengikutnya. Beliau memiliki kecerdasan dan kesopanan yang tercermin dari penilaian Van Heutsz, seorang jenderal belanda:

“Teuku Umar Adalah ‘Burung’ Yang Luar Biasa Cerdik,Muda,Ganteng,Seorang Aceh Yang Amat Sopan,Kacak,Berdaya Giat Dan Nekad. Banyak kerugian yang dibuat Umar terhadap kita”. Van menggunakan istilah  “burung”, yang bermakna bahwa penjajah Belanda sangat berkeinginan untuk menangkap sosok Teuku Umar dengan bujuk rayu, ataupun dengan janji yang muluk-muluk. Keberanian Teuku Umar juga terlihat dari pembelotannya terhadap Belanda dan melakukan pembelotan terhadapa Belanda. Dari budi luhurnya beliau, rurat kabar Belanda menyiarkan “ de gevangenen zijn over het algemeen redelijk goed behandeld”, artinya para tawanan diperlakukan dengan baik. (hal:162-163) . Bahkan hasil perdagangan ladanya dengan pihak internasional digunakan sebagai dana perjuangan yang menunjukkan bukti kedermawanan beliau.

Terkandung banyak sejarah dan pesan yang dapat kita ambil adalam buku ini. Sejarah yang tercantum tidak hanya tentang Teuku Umar saja melainkan asal usul bahkan masa kejayaan kerajaan Aceh Darussalam. Banyak juga terkait perang dan kisah panglima lainnya dalam menghadapi penjajahan. Tidak hanya pemimpin yang dibahas melainkan teori, konsep, pengukuran bahkan juga terbukti kepemimpinan Teuku Umar  mencerminkan kepemimpinan islami yang didalamnya masih berpedoman dengan Al-Qur’an dan Hadis. Dengan berbagai gaya kepemimpinan yang dibahas, ilmu kepemimpinan tersebut bisa berdampak kepemimpinan terhadap individu dan organisasi. 

Namun,  banyak istilah, pepatah, dan kata yang harus diterjemahkan dapat membuat orang asing kurang bisa memahami dan bahkan kurang tertarik , padahal istilah tersebut memiliki makna yang sangat penting,dan adapula sebagian pepatah sudah di terjemahkan. Adapun contoh pepatah yang tercantum diantaranya:

Meuri-ri kayee taikat beunteueng, meuri-ri ureung ta pula guna”. Kiasannya: tiap-tiap orang mempunyai watak dan kemauan yang berbeda-beda, oleh sebab itu hanya pada orang yang baik kita dapat menananm budi). 


 Banyak ditemukan pendapat sejarah yang berbeda-beda tanpa alasan yang kuat juga membuat pembaca susah memahaminya. Walaupun tercantum teori yang berbeda-beda namun untuk lebih memahaminya kita harus mencari lebih lanjut di sumber lain. Pendapat yang berbeda mengenai sejarah salah satunya terdapat pada tahun kelahiran Teuku Umar, menurut Teuku Dadek, seorang sejarawan Aceh Barat menerangkan bahwa Teuku Umar lahir pada tahun 1854 M di Meulaboh, sedangkan menurut Kamajaya, Dumadi, Said & Wulandari, Safwan,  menyebutkan bahwa Teuku Umar lahir pada tahun 1854 di Meulaboh. Adapun literatur sejarah lainnya menyebutkan Teuku Umar lahir di Meulaboh pada tahun 1859 M.

Namun, di dalam buku memang adanya pembahasan tentang teuku umar memiliki istri lebih dari 1 orang, tetapi tidak adanya penjelasan tentang mengapa teuku uamar berpoligami ( yaitu menikah lebih dari satu ), juga tidak ada diaebut kan siap nama atau siapa pengkhianat dari rombongan teuku umar itu sendiri.
Teuku Umar merupakan seorang motivator yang sangat bijaksana, cerdas, berbudi luhur, dan memiliki kemampuan untuk membangkitkan semangat pemuda Aceh, khususnya bagi generasi-generasi muda yang akan melanjutkan kepemimpinan. Banyak hal yang dapat kita pelajari dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun bukan di medan perang, namun dalam sebuah organisasi pastinya kita sangat memerlukan seorang pemimpin yang baik. Dari buku ini kita bisa menanggapi bahwa sanya Teuku Umar sudah memiliki jiwa kepemimpinan sejak kecil. Belua sudah mulai berperang di usia 19 tahun. Dengan buku ini kita bisa menumbuhkan rasa cinta tanah air yang kuat, seperti sosok Teuku Umar.



Catatan 
Resensi ini ditulis oleh mahasiswa Universitas Teuku Umar untuk memenuhi tugas perkuliahan bahasa Indonesia. Resensi ditulis oleh Putri Rahmawati dan Nisa Asna Wati. 



Share:

Pedoman Penulisan Fonetik Bahasa Aceh

Bagi Anda yang ingin menulis bahasa Aceh dengan penulisan fonetik, berikut ini penulis sertakan penulisan fonetik sesuai dengan IPA (International Phonetic Alphabet). 

Penulisan fonetik dalam bahasa Aceh terbagi menjadi vokal, vokal sengau, diftong, dan konsonan. Masing-masing penulisan tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini. 

Vokal
Bahasa Aceh mempunyai 17 vokal tunggal. Sepuluh vokal tunggal dihasilkan melalui mulut, yaitu a, i, e, è, é, eu, o, ô, ö, dan u. Kesepuluh vokal tunggal ini diberi nama vokal oral. Tujuh vokal lainnya dihasilkan melalui hidung, yaitu ‘a, ‘i, ‘è, ‘eu, ‘o, ‘ö, dan ‘u. Ketujuh vokal ini disebut vokal nasal (Wildan, 2010).

Gambar 1. Penulisan Vokal

Vokal Sengau 
Vokal sengau dalam bahasa Aceh terdiri atas 12 yakni
  1. 'a
  2. 'i
  3. 'u
  4. 'è
  5. o
  6. ‘ö
  7. eu
  8. ei
  9. ui
  10. ôi
  11. ‘ai
oi/ ôi/ öi

Kedua belas vokal sengau tersebut ditulis dalam lambang fonetik sebagai berikut. 
Gambar 2. Penulisan Fonetik untuk vokal sengau dan diftong. 

Dalam bahasa Aceh juga terdapat konsonan yang meliputi, 
  1. ng
  2. ny
  3. sy / sh 
  4. ph
  5. th
  6. dj
  7. zh
  8. ch/kh
  9. gh
  10. jh
  11. dh
  12. t
  13. k
  14. kr
  15. rh
  16. cr
  17. lh
  18. dr

Adapun penulisan vokal pada fonem di atas dapat dilihat pada gambar di bawah ini.








Share:

Kebangkitan Bahasa dan Sastra Aceh


Kebangkitan Bahasa dan Sastra Aceh 


Harian Serambi Indonesia edisi, Jumat 16 Desember 2022 merilis berita dengan judul Mulai Dari Pemanfaatan Pangan Lokal Hingga Makna ‘Rateb Doda Idi’. Sebuah prestasi yang membanggakan kita semua kampus ‘Jantong Hatee Rakyat Aceh’, Universitas Syiah Kuala (USK) telah menghasilkan 118 guru besar/profesor. Tentu yang menarik bagi saya pribadi pada judul berita Serambi Indonesia tersebut adalah pengukuhan Yusri Yusuf sebagai profesor bidang bahasa dan sastra dengan riset berupa doda idi (syair pengantar tidur anak). 





Jika tahun sebelumnya (2021), terdapat 3 guru besar yang dikukuhkan oleh rektor USK dengan topik riset bahasa dan sastra Aceh. Prof Dr Moh. Harun M.Pd ditetapkan sebagai guru besar dengan riset berupa sastra Aceh. Selanjutnya, Prof Dr Yunisrina Qismullah Yusuf melakukan riset mendalam tentang variasi bunyi bahasa Inggris yang dihasilkan oleh para penutur Aceh. Terakhir, dengan riset berupa dialek yang terdapat di Aceh, rektor USK melantik Prof Dr Zulfadli A Aziz (Serambi Indonesia). 

Dalam dua tahun ini, sudah ada 4 guru besar yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) di USK dengan riset seputar bahasa dan sastra Aceh. Hal ini membuktikan bahwa bahasa dan sastra Aceh memiliki keunikan dan berpotensi besar untuk melahirkan para guru besar khususnya di Aceh, dan tidak terkecuali masyarakat internasional. Misalnya, Mark Durie seorang linguis dari University of Melbourne meneliti seputar morfologi (struktur bahasa) bahasa Aceh dan berhasil menerbitkan buku dengan judul Acehnese language (bahasa Aceh). Dalam bukunya tersebut memuat secara lengkap bagaimana struktur bahasa Aceh. Selanjutnya, linguis senior dari Aceh Abdul Ghani Asyik, berhasil menyelesaikan S-3 pada The University of Michigan dengan judul disertasi A Contextual Grammar of Acehnese Sentences. Dua tokoh tersebut telah membuktikan bahwa bahasa Aceh sangat menarik pada masyarakat internasional.  

Pendirian Prodi Bahasa dan Sastra Aceh di ISBI Aceh 
Wacana pembukaan program studi (Prodi) bahasa dan sastra Aceh telah lama digaung-gaungkan oleh para praktisi dan akademisi. Tujuan utama dari pendirian Prodi bahasa dan sastra Aceh adalah menjaga, melestarikan, dan membina bahasa dan sastra Aceh. Misalnya, rekomendasi dari Kongres Peradaban Aceh pada 2015 salah satunya adalah meminta perguruan tinggi untuk membuka program studi bahasa dan sastra 

Aceh. Akan tetapi, karena satu dan lain hal program studi bahasa dan sastra Aceh belum ada satupun perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan.  

Sebagai kampus dengan ciri khas seni dan budaya, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh mencoba melihat ini sebagai peluang dan kekhasan yang dimiliki oleh institusinya untuk menyelenggarakan program studi bahasa dan sastra Aceh. Keseriusan ISBI Aceh untuk membuka program studi bahasa dan sastra Aceh salah satunya terlihat dengan pelaksanaan focus group discussion (FGD) terkait penyusunan dokumen dan usulan program studi. 

Dalam FGD tersebut, penulis berkesempatan menjadi salah satu narasumber untuk memberikan masukan terkait dokumen untuk pengusulan program studi bahasa dan sastra Aceh. Kurikulum bahasa dan sastra Aceh yang disusun oleh ISBI Aceh benar-benar disusun berdasarkan kebutuhan dan realitas di lapangan. Hadirnya Prodi Bahasa dan Sastra Aceh diharapkan dapat melindungi, mengembangkan, memanfaatkan, dan membina bahasa dan sastra Aceh. 

Peluang 
Pendirian program studi bahasa dan sastra Aceh pada ISBI Aceh akan menjadi tonggak kebangkitan bahasa Aceh. Apalagi saat ini Qanun Bahasa Aceh akan segera terbit. Rancangan Qanun tentang Bahasa Aceh dapat kita akses pada tautan https://dpra.acehprov.go.id/media/2022.08/rancangan_qanun_bahasa_aceh_rdpu1.pdf. Pendirian program studi bahasa Aceh diharapkan dapat melahirkan para linguis, peneliti, penerjemah, sastrawan, penulis, penyunting, dan penyuluh yang berkompeten. Tidak terkecuali, lulusan program studi bahasa dan satra Aceh akan menjadi guru bahasa Aceh setelah mengikuti program profesi guru. 

Program studi bahasa daerah sebenarnya telah diselenggarakan oleh beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Misalnya, Universitas Negeri Yogyakarta menyelenggarakan S-1 Pendidikan Bahasa Jawa. Tidak hanya jenjang S-1, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa justru membuka Prodi S-2 Pendidikan Bahasa Bali. Tentunya hal ini berbanding terbalik jika melihat fakta yang terdapat di Provinsi Aceh. Perguruan tinggi negeri ataupun perguruan tinggi swasta tidak ada satu pun yang menyelenggarakan program studi bahasa dan sastra Aceh. 

Dampak dari tidak adanya perguruan tinggi yang melahirkan sarjana bidang bahasa dan sastra Aceh, mata pelajaran bahasa Aceh cenderung diajarkan oleh sarjana yang tidak berkompeten bidang bahasa dan sastra Aceh. Sejatinya, untuk menjadi pengajar bahasa dan sastra, diharuskan memiliki kemampuan bidang linguistik yang mumpuni. 
Di samping itu, guru bahasa haruslah memiliki empat keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis). Apabila bahasa Aceh diajarkan oleh pengajar yang tidak berkompeten, tidak salah bahasa Aceh ragam tulis yang berkembang saat ini tidak ada yang standar. Untuk itu, sangat diperlukan guru yang mengajar bahasa Aceh adalah lulusan dari program studi bahasa dan sastra Aceh. 

Dukungan 
Kekhawatiran yang agak besar terkait pendirian program studi bahasa dan sastra Aceh adalah tidak adanya peminat dan lapangan kerja lulusan dari program studi bahasa Aceh. Hal ini sebenarnya dapat terbantahkan dengan kurikulum yang dimiliki oleh program studi. Setiap perguruan tinggi saat mengusulkan program studi tentunya harus memenuhi instrumen pemenuhan syarat minimum akreditasi program studi. Ada tiga hal yang paling mendasar terkait pendirian program studi, yakni kurikulum, dosen, dan unit pengelola program studi. Ketentuan tersebut sepenuhnya diatur dalam peraturan perundangan sehingga lulusan dari program studi benar-benar memiliki kompetensi sebagaimana capaian profil lulusan (CPO) pada program studi. 

Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) sangat relevan dengan keadaan saat ini. Program studi yang akan diusulkan melalui kegiatan MBKM sangat mampu bersaing dan memperoleh pekerjaan karena telah dibekali pengetahuan dan pengalaman melalui kegiatan MBKM. Selain itu, program ini sepenuhnya didukung oleh pemerintah melalui 8 kegiatan MBKM, yakni (1) magang mahasiswa, (2) KKNT, (3) proyek kemanusiaan, (4) kegiatan wirausaha, (5) studi/proyek independen, (6) penelitian/riset, (7) pertukaran pelajar, dan (8) mengajar di sekolah. 

Sesuai dengan rancangan Qanun tentang Bahasa Aceh, pembinaan bahasa dan sastra Aceh secara eksplisit dijelaskan pada Pasal 15. Pada pasal tersebut diamanatkan bahwa pembinaan bahasa dan sastra Aceh meliputi (1) pengajaran pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan, (2) penyelenggaraan kegiatan, (3) peningkatan kompetensi dan kuantitas guru Bahasa Aceh, (4) pengekspresian seni, (5) pembinaan komunitas dan sanggar, (6), penetapan hari tertentu untuk praktik penggunaan bagi seluruh lapisan masyarakat; dan (7) penetapan Hari dan Bulan Bahasa Aceh, Aksara Aceh, dan Sastra Aceh. Tidak terkecuali, pada ayat (4) Pasal 15 disebutkan mendorong dan mendukung pendirian Jurusan atau Program Studi Bahasa dan Sastra Aceh di perguruan tinggi. 

Kembali lagi pada bagian awal tulisan ini, sejak dua tahun terakhir sudah ada 4 profesor yang ditetapkan oleh Kemdikbudristek dalam kepakaran bahasa terkait riset bahasa dan sastra Aceh. Bahasa dan sastra Aceh merupakan khazanah kebahasaan yang dimiliki oleh seluruh warga Aceh. Melalui kegiatan tridarma kampus (pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat) diharapkan bahasa Aceh mendapat tempat di hati seluruh masyarakat Aceh. Ada puluhan bahkan ratusan yang berhasil memperoleh gelar sarjana, magister, bahkan doktor dengan riset bidang bahasa dan sastra Aceh. 

ISBI Aceh berhajat baik untuk membangkitkan bahasa dan sastra Aceh baik di level nasional maupun internasional. Hajat tersebut diwujudkan dengan pendirian program studi bahasa Aceh dan program studi sastra Aceh. Dukungan dan doa dari semua pihak sangat diharapkan agar pendirian program studi bahasa dan sastra Aceh ini dapat segera memperoleh izin dari Kemdikbudristek untuk penyelenggaraan program studi. Semoga lahirnya program studi bahasa dan sastra Aceh dari perguruan tinggi negeri ini menjadi kebanggaan kita semua. Semoga!
 

Sumber: Serambi Indonesia. Artikel selengkapnya dapat ditemukan pada tautan ini. 
 


Share:

List Jurnal Bidang Bahasa, Sastra, dan Pendidikan yang Ada di Indonesia

Bagi Anda yang ingin mencari ataupun mempublikasikan artikel bidang bahasa, sastra, atau pendidikan, berikut ini list jurnal yang bisa membantu Anda. 




2. BAHASTRA (terindeks DOAJ) http://journal.uad.ac.id/index.php/BAHASTRA
3. LENSA (terindeks DOAJ dan Sinta 3) http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa
4. Kajian Linguistik dan Sastra http://journals.ums.ac.id/index.php/KLS
5. ILEaL (terindeks DOAJ dan SINTA 2) http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill
8. GRAMATIKA (terindeks DOAJ, Akreditasi Sinta 3) http://ejournal.stkip-pgri-sumbar.ac.id/index.php/jurnal-gramatika
10. METALINGUA http://metalingua.kemdikbud.go.id (Teindeks DOAJ dan SINTA 2)
11. POETIKA: Jurnal Ilmu Sastra (terindeks DOAJ) https://jurnal.ugm.ac.id/poetika
12. JILEL http://usnsj.com/index.php/JILEL/index
13. KONFIKS http://journal.unismuh.ac.id/index.php/konfiks
14. KEMBARA http://ejournal.umm.ac.id/index.php/kembara/index (SINTA 3)
15. SEMANTIK http://e-journal.stkipsiliwangi.ac.id/index.php/semantik
16. KOMPOSISI, http://ejournal.unira.ac.id/index.php/jurnal_komposisi
17. ARKHAIS http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/arkhais
18. KOMPOSISI http://ejournal.unp.ac.id/index.php/komposisi
19. Pena Indonesia https://journal.unesa.ac.id/index.php/jpi
20. SELOKA (terindeks DOAJ & SINTA 3) http:journal.unnes.ac.id/sju/index.php/seloka
21. ARTIKULASI http://jurnal.upi.edu/artikulasi
22. BAHTERA http://ejournal.umpwr.ac.id/index.php/bahtera
23. LITERA (terakreditasi Dikti) http://journal.uny.ac.id/index.php/litera
24. SALINGKA (Terakreditasi SINTA 3) http://salingka.kemdikbud.go.id
25. RETORIKA http://ojs.unm.ac.id/index.php/retorika (DOAJ, Akreditasi Sinta 2)
26. PENA LITERASI https://jurnal.umj.ac.id/index.php/penaliterasi
27. HORTATORI https://ejournal-pbi.unindra.ac.id/index.php/hortatori/
28. DEIKSIS http://journal.lppmunindra.ac.id/index.php/Deiksis
29. TRANSFORMATIKA (DOAJ&SINTA) http://jurnal.untidar.ac.id/index.php/transformatika
30. SEMIOTIKA https://jurnal.unej.ac.id/index.php/SEMIOTIKA
31. CARAKA http://jurnal.ustjogja.ac.id/index.php/caraka
32. KANDAI http://ojs.badanbahasa.kemdikbud.go.id/jurnal/index.php/kandai (terindeks DOAJ dan SINTA 2)
33. LITERASI https://jurnal.unigal.ac.id/index.php/literasi
34. Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/jpbsi/index
35. DEIKSIS (terindeks DOAJ) http://jurnal.unswagati.ac.id/index.php/Deiksis
36. Lingua Cultura (Terakreditasi Dikti) http://journal.binus.ac.id/index.php/lingua
37. IJAL (terindeks Scopus) http://ejournal.upi.edu/index.php/IJAL
38. WIDYAPARWA http://www.widyaparwa.com/index.php/widyaparwa (terakreditasi SINTA 2)
39. ALAYASASTRA http://www.jurnal.balaibahasajateng.id/index.php/alayasastra




40. JALABAHASA http://www.jurnal.balaibahasajateng.id/index.php/jalabahasa
41. ATAVISME (Terindeks DOAJ dan SINTA 2) http://atavisme.kemdikbud.go.id
42. SAWERIGADING (Terakreditasi SINTA 2) http://sawerigading.kemdikbud.go.id
43. WACANA (terindeks Scopus) http://journal.ui.ac.id/index.php/wacana
44. RANAH (terindeks DOAJ dan SINTA 2) http://ojs.badanbahasa.kemdikbud.go.id/jurnal/index.php/jurnal_ranah
45. JENTERA (terindeks DOAJ) http://ojs.badanbahasa.kemdikbud.go.id/jurnal/index.php/jentera
46. AKSARA (Terindeks DOAJ dan SINTA 2) http://aksara.kemdikbud.go.id/jurnal/
47. METASASTRA http://ejurnalbalaibahasa.id/index.php/metasastra (Terakreditasi SiNTA 4)
48. MADAH http://ejurnalbalaibahasa.id/index.php/madah (terakreditasi SINTA 3:
49. KELASA http://ejurnalbalaibahasa.id/index.php/kelas
50. UNDAS http://ojs.badanbahasa.kemdikbud.go.id/jurnal/index.php/undas 
51. TUAH TALINO http://ojs.badanbahasa.kemdikbud.go.id/jurnal/index.php/tuahtalino 
52. LOA http://ojs.badanbahasa.kemdikbud.go.id/jurnal/index.php/loa 
53. MEDAN MAKNA http://ojs.badanbahasa.kemdikbud.go.id/jurnal/index.php/medanmakna 
54. ‎Jurnal Pendidikan Bahasa http://journal.ikippgriptk.ac.id/index.php/bahasa/ 
55. SEBASA http://e-journal.hamzanwadi.ac.id/index.php/sbs 
56. FENOLINGUA http://jurnal.unwidha.ac.id/index.php 
57. KREDO https://jurnal.umk.ac.id/index.php/kredo/index 
58. AKSIS http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/aksis/scope 
59. FON https://journal.uniku.ac.id/index.php/FON 
60. SUAR BETANG http://suarbetang.kemdikbud.go.id/jurnal/index.php/BETANG 
61. LINGUA FRANCA http://journal.um-surabaya.ac.id/index.php/lingua/index 
62. STILISTIKA http://journal.um-surabaya.ac.id/index.php/Stilistika 
63. SKRIPTA http://upy.ac.id/ojs/index.php/pbsi 
64. Widyasastra (Sastra) www.widyasastra.com 
65. JP-BSI (JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA) (Terindeks DOAJ) http://journal.stkipsingkawang.ac.id/index.php/JP-BSI 
66. KADERA BAHASA https://kaderabahasa.kemdikbud.go.id/jurnal/index.php/kaderabahasa 
67. PESONA (Jurnal Kajian Bahasa dan Sastra Indonesia) https://ejournal.stkipmpringsewu-lpg.ac.id/index.php/pesona/index
68. Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajaran https://jurnal.unsur.ac.id/ajbsi 
69.Jurnalistrendi:Jurnal Linguistik, Sastra dan Pendidikan Https://ejournal.unwmatatam.ac.id 
70. Bindo Sastra http://jurnal.um-palembang.ac.id/index.php/bisastra/index 
71. SASTRANESIA http://ejournal.stkipjb.ac.id/index.php/sastra 
72. AKSARA (terindeks DOAJ, Copernicus, dan Sinta 2) http://aksara.kemdikbud.go.id
73. DIGLOSIA http://jurnal.unma.ac.id/index.php/dl/index
74. PENA https://online-journal.unja.ac.id/index.php/pena/index
75. Gramatika: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan (Kantor Bahasa Maluku Utara, terindeks Sinta) gramatika.kemdikbud.go.id
76. Lentera http://e-journal.hikmahuniversity.ac.id/index.php/lentera/index
77. Jurnal Pendidikan Seni, Bahasa, dan Budaya  http://ejournal.elbinajatim.com/index.php/jpsb
78. SASINDO Jurnal PBSI Universitas PGRI Semarang
http://journal.upgris.ac.id/index.php/sasindo
79. Jurnal Membaca http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/jurnalmembaca/index
80. Jurnal Widyaacarya (FKIP, Universitas Dwijendra, Denpasar)
http://ejournal.undwi.ac.id/index.php/widyaaccarya
81. Magistra Andalusia (Sinta 4) (Pasca ilmu Sastra, FIB Universitas Andalas) http://magistraandalusia.fib.unand.ac.id
82. Jurnal Diksi, UNY https://journal.uny.ac.id/index.php/diksi
83. Jurnal Geram, UIR http://journal.uir.ac.id/index.php/geram
84. Jurnal Dinamika, URL https://jurnal.unsur.ac.id/dinamika
85.  Riksa Bahasa http://ejournal.upi.edu/index.php/RBSPs
86. Jurnal Disastra (Sinta 4), IAIN Bengkulu
http://ejournal.iainbengkulu.ac.id/index.php/disastra
87.  Jurnal Sasando, UPS Tegal, Jurnal Hasil Penelitian Bahasa dan Sastra http://sasando.upstegal.ac.id
88. Jurnal Bahasa jurnal.ppjb-sip.id
89. Bahtera Indonesia: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia http://bahteraindonesia.unwir.ac.id/index.php/BI
90. Jurnal Matapena http://ejurnal.unim.ac.id/index.php/matapena
91. Jurnal Metabahasa http://journal.stkipyasika.ac.id/index.php/metabahasa/issue/view/1
92. Jubindo
http://jurnal.unimor.ac.id/JBI
93. Imajeri https://imajeri.uhamka.ac.id/imj
94.Jurnal Bahasa dan Sastra
http://ejournal.unp.ac.id/index.php/ibs
95. Diksa  https://ejournal.unib.ac.id/index.php/jurnaldiksa
96. SIBISA https://ojs.stkippgri-lubuklinggau.ac.id/index.php/SIBISA/
97. BASASTRA http://jurnal.uns.ac.id/basastra
98. Komposisi: Jurnal Bahasa, Sastra dan Seni
http://ejournal.unp.ac.id/index.php/komposisi
99. Metamorfosis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia http://ejournal.unibba.ac.id/index.php/metamorfosis
100. METAFORA http://jurnalnasional.ump.ac.id/index.php/METAFORA
101. Jurnal Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (JBIPA) http://ojs.badanbahasa.kemdikbud.go.id/jurnal/index.php/bipa
102. Jurnal Belajar Bahasa  http://jurnal.unmuhjember.ac.id/index.php/BB
103. Jurnal Telaah http://journal.ummat.ac.id/index.php/telaah
104. Logat http://ejournal.fkip.unsri.ac.id/index.php/logat
105. Ghancaran http://ejournal.stainpamekasan.ac.id/index.php/ghancaran/index
106. Estetik http://journal.iaincurup.ac.id/index.php/estetik
107. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (JPBSI) Unnes https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jpbsi/ (Sinta 3)
108. Jurnal Sastra Indonesia (JSI) Unnes https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jsi (Sinta 3)
109. Bahtera (S5) http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/bahtera
110. Jurnal Lingko Kantor Bahasa NTT http://jurnallingko.kemdikbud.go.id/index.php/JURNALLINGKO
111. Jurnal Literatur IAIN Lhokseumawe https://ejurnal.iainlhokseumawe.ac.id/index.php/literasi 
112. Metamorfosa (S5) https://ejournal.bbg.ac.id/metamorfosa
113. Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra (S5) https://jurnal-lp2m.umnaw.ac.id/index.php/JP2B2/index
114. Jurnal Sarasvati https://journal.uwks.ac.id/index.php/sarasvati
115. JLER https://journal.ikipsiliwangi.ac.id/index.php/jler
116. Tabasa IAIN Surakarta http://ejournal.iainsurakarta.ac.id/index.php/tabasa/article/view/2607
117. Parole (Jurnal Prndidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) https://journal.ikipsiliwangi.ac.id/index.php/parole/index
118. Jurnal Cakrawala (sinta 4) Linguista https://journal.stkipsingkawang.ac.id/index.php/Cling
119. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Undiksha (Sinta 4) 
https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJPBS
120. Nusa: Jurnal Bahasa dan Sastra (Sinta 5), https://ejournal.undip.ac.id/index.php/nusa/index
121. Ruang Kata: Journal of Language and Literature Studies 
https://jurnal.umnu.ac.id/index.php/jrk
122. Ghâncaran: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sinta 3) https://ejournal.iainmadura.ac.id/index.php/ghancaran
123. MARDIBASA: Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia 
http://ejournal.iain-tulungagung.ac.id/index.php/jtbi

Share:

Ingin Tembus Scopus, Begini Langkah-langkah yang harus Anda Lakukan


Scopus merupakan pengindeks yang sangat populer di kalangan dosen dan peneliti. Setiap dosen dan peneliti kata Scopus mungkin tidaklah asing. Mereka berlomba-lomba untuk mempublikasikan artikelnya pada jurnal yang terindeks Scopus. Tidak jarang, para dosen/peneliti mengeluarkan biaya yang terbilang besar agar artikel yang ditulisnya dimuat di jurnal terindeks Scopus. Biaya tersebut dikeluarkan untuk membayar biaya publikasi (Article processing charge). Selain itu, biaya yang dikeluarkan digunakan untuk membayar jasa translate ataupun proofreading agar artikel yang akan dipublikasikan ditulis dengan kaidah bahasa Inggris yang tepat. 


Gambar 1. Tampilan ID Scopus

Melalui postingan ini, saya akan membagikan pengalaman bagaimana proses pengiriman artikel pada jurnal internasional terindeks Scopus hingga dipublikasikan. 

Langkah yang pertama dilakukan untuk mempublikasikan artikel pada jurnal internasional terindeks Scopus adalah mencari jurnal yang akan disubmit. Pastikan seluruh ketentuan seperti scope dan template jurnal sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh pengelola jurnal. Apabila hal ini tidak Anda lakukan, siap-siap artikel Anda akan ditolak secara langsung tanpa melewati tahapan review. Chief editor akan memerikan kelengkapan artikel, jika dirasa tidak sesuai dengan gaya selingkung jurnalnya, chief editor otomatis akan menolak tulisan Anda. 

Saya memilih jurnal Language, Discourse & Society karena bidang ilmu yang saya tuliskan berkaitan bahasa. Jurnal ini telah terindeks Scopus sejak 2019 dan oleh Sinta dikategorikan dalam Q-4. Artikel yang saya kirimkan saya submit pada laman OJS-nya. Pastikan seluruh identitas yang diharapkan oleh jurnal tersebut telah diisi pada laman OJS. 




Setelah artikel saya submit, langkah yang kita lakukan adalah menunggu hasil review oleh para reviewer. Saya menunggu selama 2 bulan hingga chief editor mengirimkan hasil review. Akan tetapi, setelah saya menunggu 2 bulan, hasil review belum dikirimkan. Saya selanjutnya menghubungi chief editor melalui email yang terdapat pada laman OJS jurnal mereka. 

Chief editor jurnal tersebut sangat baik. Ia membalas email yang saya kirimkan. Ia mengatakan bahwa ia kesulitan menemukan reviewer yang sesuai dengan bidang ilmu yang saya kami tuliskan. Setelah sebulan kemudian, chief editor memberitahukan kepada saya bahwa artikel kami diterima dengan beberapa perbaikan kecil (minor revision). 

Kami selanjutnya merevisi artikel tersebut sesuai dengan masukan yang diberikan oleh reviewer. Setelah saya mengirimkan perbaikan, saya juga menghubungi chief editor kembali. Saya meberitahukan bahwa saya telah mengirimkan perbaikan. 

Untuk kasus perbaikan kecil (minor revision), sering kali perbaikan hanya sekali. Akan tetapi, jika perbaikan yang lumayan banyak (mayor revision), kemungkinan chief editor akan mengirimkan kembali perbaikan kita ke reviewer untuk dinilai kembali. Apabila masih ada yang kurang, kita harus memperbaiki kembali artikel tersebut. 

Artikel yang saya kirimkan memerlukan waktu selama 6 bulan. Artikel pertama sekali saya submit pada bulan Mei. Artikel diterima pada bulan November dan dimuat pada Desember. Proses ini harus dilewati dan dilakukan oleh pengelola jurnal yang baik. 

Jangan sesekali Anda tergiur dengan langkah yang instan mengirimkan artikel pada jurnal predator ataupun jurnal abal-abal. Dipastikan artikel tersebut tidak dapat dipakai untuk ajuan lektor kepala ataupun professor jika jurnal tersebut terindakasi pelanggaran kode etik ilmiah. Oleh karena itu, ikuti proses dari masing-masing pengelola jurnal. 

Bagi Anda yang baru dan menginginkan data terkait jurnal terindeks Scopus, silakan cari di Scimago Journal Ranking ataupun Scopus. Adapun tautannya silakan Anda klik pada tautan di bawah ini. 

Share:

Proposal Lengkap Penelitian Dosen Pemula Bidang Bahasa yang Didanai oleh Kemdikbudristek


Metafora dalam Bahasa Aceh pada Media Sosial Instagram: Potensi dan Ancaman Ujaran Kebencian di Ruang Publik 


Metode 

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif dengan sumber data komentar warganet pada media sosial Instagram. Data diambil dari kolom komentar Instagram pada akun (1) @serambinews, (2) @haba_acehbarat, (3) @aceh.viral, dan (4) @acehworldtime. Keempat akun tersebut dipilih karena memiliki ribuan jumlah pengikut dan merupakan media sosial yang aktif memberikan informasi kepada pengguna Instagram. Data yang sudah dikumpulkan dianalisis secara kualitatif. Pengumpulan data penelitian dilakukan selama 4 bulan dan setiap komentar warganet akan dicatat setiap harinya.

Untuk memperoleh hasil analisis yang mendalam, teks kebahasaan tersebut dianalisis secara hermeneutik dan semantis (makna). Analisis secara hermeneutik dilakukan untuk menafsirkan teks agar lebih mendekati kebenaran universal dalam kehidupan sosial masyarakat [20]. Adapun analisis semantik digunakan karena kajian ini berusaha mengkaji distribusi kosa kata yang membentuk jaringan makna dan jaringan konseptual dalam sebuah medan semantik [21].

Teknik Penganalisisan Data

Penganalisisan data penelitian dilakukan dengan tahapan (1) menyalin komentar pengguna Instagram yang mengandung metafora (2) mengklasifikasikan jenis metafora dan fungsi tuturan, (3) membuat analisis, dan (4) penarikan simpulan. Klasifikasi ujaran kebencian disesuaikan dengan Tabel 1. Bentuk dan Tingkatan Ujaran Kebencian.

Tabel 1. Nama, Bidang Keahlian, Rincian Tugas, dan Alokasi Waktu



Gambar Tahapan Pelaksanaan Penelitian

Proposal penelitian selengkapnya silakan klik di sini!


Share:

Kumpulan Dasar Hukum Terkait Bahasa Indonesia




Bahasa Indonesia merupakan bahasa negara Indonesia sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945. Penggunaan Bahasa Indonesia tersebut selanjutnya dijabarkan dalam Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, dan Peraturan Presiden.  Untuk lebih lengkpanya terkait undan-undang dan peraturan perundangan penggunaan bahasa Indonesia silakan klik tautan di bawah ini. 



Adapun bagian dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2009 yang menjelaskan tentang bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.  

BAB III BAHASA NEGARA 
Bagian Kesatu Umum 
Pasal 25 
(1)  Bahasa Indonesia yang dinyatakan sebagai bahasa resmi negara dalam Pasal 36 Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 bersumber dari bahasa yang diikrarkan dalam Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 sebagai bahasa persatuan yang dikembangkan sesuai dengan dinamika peradaban bangsa. 
(2)  Bahasa Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi sebagai jati diri bangsa, kebanggaan nasional, sarana pemersatu berbagai suku bangsa, serta sarana komunikasi antardaerah dan antarbudaya daerah. 
(3)  Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan, pengantar pendidikan, komunikasi tingkat nasional, pengembangan kebudayaan nasional, transaksi dan dokumentasi niaga, serta sarana pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan bahasa media massa. 



Share:

HERMENEUTIKA DAN POSITIVISME LOGIS (SUATU TINJAUAN HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT DAN BAHASA)

Filsafat telah membawa perubahan yang begitu penting dalam dunia pendidikan. Hal itu ditandai sejak perkembangan filsafat sampai dengan saat ini masih menjadi kajian menarik diteliti serta dipelajari di berbagai perguruan tinggi. Bahkan banyak guru besar lahir dengan objek kajiannya berupa filsafat. Jika dilihat dari pekembangannya, filsafat dibagi menjadi empat fase. Keempat fase tersebut, yakni kosmosentris, teosentris, antroposentris dan logosentris. Fase "kosmosentris" adalah fase di mana alam dipandang sebagai objek discourse. Ini terjadi pada masa klasik. Pada fase "teosentris", Tuhan menjadi objek pembicaraan. Fase ini berlangsung pada abad pertengahan. Di abad modern yang merupakan fase antroposentris, wacana yang penting dan dominan dalam kajiannya adalah seputar manusia terutama kekuatan akal atau rasionya. Selanjutnya, di abad mutakhir ini, abad 20 adalah fase "logosentris", bahasa menjadi pusat objek perbincangan yang menarik. 

Secara etimologis kata hermeneutika (hermeneneutic) berasal dari bahasa Yunani dari kata kerja hermeneuein yang berarti menjelaskan, menerjemahkan dan mengekspresikan (Sumaryono, 23:1993). Kata bendanya hermeneia, artinya tafsiran. Dalam tradisi Yunani kuno kata hermeneuein dan hermeneia dipakai dalam tiga makna, yaitu (1) “mengatakan”, to say (2) ”menjelaskan” to explain dan (3) “menterjemahkan”, to translate. Tiga makna inilah yang dalam kata Inggris diekspresikan dalam kata : to interpret. Interpretasi dengan demikian menunjuk pada tiga hal pokok: pengucapan lisan (an oral ricitation), penjelasan yang masuk akal (a reasonable explation) dan terjemahan dari bahasa lain (a reation from another language) Siswanto, (172-173:1998). 

Secara historis kata hermeneutika merujuk pada nama Hermes, tokoh seorang utusan Tuhan dalam mitologi Yunani yang bertugas menjadi perantara antara dewa Zeus dan manusia. Menurut Hidayat (117:1998), ia bertugas menjelaskan kepada manusia perintah-perintah tuhan mereka. Dengan kata lain ia bertugas untuk menjembatani antara dunia langit (divire) dengan dunia manusia. Konon suatu saat Hermes dihadapkan pada persoalan pelik ketika harus menyampaikan pesan Zeus untuk manusia. Yaitu bagaimana menjelaskan bahasa Zeus yang menggunakan “bahasa langit” agar bisa dimengerti oleh manusia yang menggunakan “bahasa bumi”. Akhirnya dengan segala kepintaran dan kebijaksanaannya, Hermes menafsirkan dan menerjemahkan bahasa Zeus ke dalam bahasa manusia sehingga menjelma menjadi sebuah teks suci. Kata teks berasal dari bahasa Latin yang berarti produk tenunan atau pintalan. Dalam hal ini yang dipintal oleh Hermes adalah gagasan dan kata-kata Zeus agar hasilnya menjadi sebuah narasi dalam bahasa manusia yang bisa dipahami.

Salah seorang filsuf yang terkenal dengan kajian hermeuntika adalah Gadamer. Gadamer memiliki nama lengkap Hans-George Gadamer, dilahirkan di Marburg pada tahun 1900. Ia belajar filsafat pada universitas di kota asalnya, antara lain pada Nikolai Hartmann dan Martin Heidegger dan mengikuti kuliah juga pada Rodolf Bultmann, seorang teolog protestan. Pada tahun 1922 ia meraih gelar ”doktor filsafat“. Sembilan tahun kemudian ia menjadi privatdozent di Marburg. Setelah selama tiga tahun mengajar, tepatnya tahun 1937 ia menjadi profesor. Tetapi dua tahun kemudian Gadamer pindah ke Leipzig. Pada tahun 1947 ia pindah lagi ke Frankfurt am Main. Akhirnya di tahun 1949 ia mengajar di Heidelberg sampai pensiunnya (Bertens, 233:1983). 

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sofyan (2014) disimpulkan bahwa, menurut Gadamer, membaca dan memahami sebuah teks pada dasarnya adalah melakukan dialog dan membangun sintesis antara dunia teks, dunia pengarang dan dunia pembaca. Ketiga hal ini -dunia teks, dunia pengarang dan dunia pembaca- menjadi pertimbangan penting dalam setiap pemahaman. Pengabaian atas salah satu aspek akan melahirkan pemahaman atas teks menjadi kering dan miskin. Untuk mendapatkan pemahaman yang maksimal, Gadamer mengajukan empat teori: prasangka hermeneutik, lingkaran Hermeneutika, Aku-Engkau“ menjadi ”Kami“ dan hermeneutika dialektis. Keempat teori ini bukan hal yang baru dalam tradisi tafsir. Sebab prinsip dasar hermeneutika adalah sebuah upaya interpretatif untuk memhami teks. Selain daripada itu, para filsuf yang membahas mengenai hermeunetika, antara lain; Ricoeur Russell, Ricoeur Russell, Friedrich Schleiermacher, Wilhelm Dilthey, dsb. Pada bagian pemabahasan makalah ini, penulis hanya menyajikan beberapa kosep pemikiran dari kelima filsuf tersebut. Penulis juga akan mencoba menjelaskan mengenai filsafat positivisme logis yang berhasil penulis serap dari berbagai sumber.

Download makalah lengkap silakan klik di bawah ini!
Share:

Proposal Penelitian;Analisis Kesalahan Pemakaian Diksi dalam Koran Serambi Indonesia Rubrik Kutaraja

ANALISIS KESALAHAN PEMAKAIAN DIKSI DALAM KORAN HARIAN SERAMBI INDONESIA RUBRIK KUTARAJA

Rahmad Nuthihar

1.      Latar Belakang
Media mempunyai peran ganda dalam kehidupan sehari-hari. Selain sarana menyampaikan informasi, media juga berfungsi untuk mencerdaskan pembaca. Penggunaan bahasa indonesia baik yang benar serta merujuk pada Undang-Undang (UU) No 24/2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara adalah ciri media yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa khusunya masyarakat Aceh.

Nugroho (2013) mengatakan, masyarakat sebaiknya hanya mengonsumsi pers berkualitas. Melalui kiat seperti itu, dengan sendirinya pers atau media yang tidak berkualitas akan mati, karena tidak ada yang membeli. Yang kita butuhkan adalah pers yang berkualitas, pers yang dapat menunumbuhkembangkan masyarakat dalam segala bidang politik, budaya, ekonomi, dan sosial akan terbentuk.

Pengunaan bahasa indonesia sendiri berdasarkan kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonnesia berfungsi sebagai (a) bahasa negara (b) bahasa pengantar resmi di lembaga pendidikan, (c) bahasa resmi perhubungan  pada tingkat nasional, baik untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan maupun untuk kepentingan pemerintahan, (d) bahasa remsi di dalam kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan teknologi moden (Halim, 1976 : 145).

Penelitian ini berkenaan dengan analisis kesalahan leksikal di koran harian serambi indonesia rubrik Kutaraja. Penelitian ini penting dilakukan mengingat fungsi bahasa Indonesia itu sendiri  (1) lambang kebanggaan nasional (2) lambang iendentitas nasional (3) alat pemersatu berbagai masyarakt yang berbeda-beda latar belakang sosila, budaya, dan bahasa (4) alat perhubungan antarbudaya dan daerah (Setyawati 1 : 2010).

Penulis merasa penelitian ini sangat bermanfaat untuk khasanah penggunaan bahasa Indonesia terutama di koran Harian Serambi Indonesia. Setiap hari koran tersebut dibaca oleh ribuan orang baik kalangan bawah hingga kalangan atas. Tanpad disadari penggunaan bahasa indonesia terutama pemakaian diksi yang salah membuat masyarakat mengikuti pemilihan diksi di dalam koran tersebut.

Seseroang pembicara atau penulis akan memilih kata yang “terbaik” untuk mengungkapkan pesan yang akan disampaikannya. Pilihan kata yang “terbaik” adalah yang memenuhi syarat antara lain ; (1) ketepatan, (2) kebenaran, (3) kelaziman (Alwi dkk, 1992:11)

Pemilihan rubrik yang dikhususkan pada Kutaraja, penulis merasa rubrik tersebut perlu mendapat sentuhan oleh orang yang paham dibidangya. Dewasa kali ini, rubrik tersebut notabennya dibaca oleh pejabat pemerintahan di Provinsi Aceh. Dan sangat  disayangkan bila hal ini tidak mendapat perhatian khusus dari pihak media serambi indonesia. Tentu, selain menyampaikan informasi, media sendiri sangat besar pengaruhnya dalam masyarkat terutama menyangkut pemakaian bahasa indonesia. 
Kesalahan bahasa dapat terjadi pada ragam  bahasa lisan dan ragam tulis. Kesalahan pada bahasa pada ragam tulis bersifat permanen. Akibatnya, kesalahan yang terjadi pada ragam tulis dapat memberi dampak negatif yang lebih  luas dan permanen. Pembaca akan meniru tulisan yang dibacanya, menjadi skemata, dan menulis pada tempat dan waktu yang lain. Kesalah itu akan terus berulang jika tidak mendapat perhatian dan perbaikan yang semestinya. Oleh itu, kesalahan ragam tulis, termasuk kelasahan pemilihan diksi di koran harian serambi indonesia, perlu ditanggai dan diatasi.

2.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
(1)   Bagaimana kesalahan pemilihan diksi pada koran harian Serambi Indonesia?
(2)   Aspek dan tipe kesalahan yang bagaimana dominan terjadi pada pemilihan diksi di koran harian serambi indonesia rubrik kutaraja?

3.      Tujuan Penelitan
Berdasarkan rumusan masalah di atas,  tujuan penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut ;
(1)   mendeskripsikan kesalahan pemilihan diksi pada koran harian Serambi Indonesia;
(2)   mendeskripsikan aspek dan tipe kesalahan yang dominan terjadi pada pemilihan diksi di koran harian serambi indonesia rubrik kutaraja;

4.      Tinjauan Pustaka
4.1  Pengertian Analisis Kesalahan Berbahasa
kesalahan penulisan bahasa indonesia berujuk pada empat hal atau kata lainnya salah. Pertama ‘Salah’ kata salah ini sendiri diantonimkan dengan ‘betul’ pada prinsipnya yang dilakukannya itu tidak betul, sertia tidak menurut norma dan ketuan yang berlaku. Hal ini terjadi kemungkinan penulis tersebut khilaf, jika kesalahan ini dikatikan dengan penggunaan kata, maka penulis tersebut belum tahu kata yang tepat untuk dipakai.

Kedua ‘penyimpangan’ dapat diartikan menyimpang dari norma yang ditetapkan. Wartawan ini sendiri menulis berita mengabaikan, enggan serta tidak mau menggunakan bahasa indonesia yang sebagaimana semestinya.

Ketiga ‘pelanggaran’ hal cenderung bersifat negatif. Umumnya penutur bahasa itu, dengan penuh kesadaran tidak mau mengikuti norma yang telah ditentukan, sekalipun ia mengetahui bahwa yang telah ia lakukan berakibat tidak baik. Sehingga dalam penulisan berita sering kali berujung pada ketidakmampuan pembaca menangkap pesan yang dituliskan. Atau dengan kata lain dikatakan tidak mampu menyampaikan pesan dengan tepat. 

Keempat ‘kekhilafan’ merupakan proses psikologis penutur dalam menuliskan sesuatu, hal ini menandai seorang khilaf menerapkan teori atau norma yang memang benar-benar diketahinya. Kemungkinan hal ini disebabkan kurang telitinya saat menulis. (Setyawati 1 : 2010).

Analisis kesalahan berbahasa merupakan suatu studi terhadapa pemakaian bahasa tertentu oleh masyarakat. Analisis kesalahan berbahasa dapat diarahkan untuk meneumukan (1) kesalahan berbahasa yang disebabkan oleh bahasa lain (intralinggual), (2) kesalahan berbahasa yang disebabkan oleh kemampuan pemakai bahasa itu sendiri (interlingual), dan (3) faktor psikologis dan fisiologis berpikir kemampuan pancaindra.

4.2  Fungsi Analisis kesalahan berbahasa
Richar (dalam Saparni, 1986 : 40-44) mengemukakan bahwa anlisis kesalahan berbahasa memiliki dua fungsi, yaitu fungsi teoritis dan praktis. Fungsi praktis merupakan fungsi yang dimanfaatkan hasilnya bagi bahasa itu dan pekamakainya (pedagogis). Analisis kesalahan dan fungsi ini memiliki manfaat sebagai berikut;
1.      Memberikan umpan balik kepada pemakai bahasa mengenai kesalahan. Kadar kesalahannya, dan upayayang harus dilakukan berikutnya ;
2.      Memabantu erencaan pelaksanaan perbaikan, merupakan usaha yang ditunjuk khusus untuk membantu pemakai bahasa dalam mengatasi kesulitan dan memperbaiki kesalahan yang masih dialami.
3.      Membantu pendapat dalam ruang lingkup kesalahan. Usaha ini dapat bermanfaat bagi pihak yang ingin mengetahui kesalah-kesalahan dalam bahasa yang fungsi secara teoritisnya merupakan suatu usaha  ntuk memahami proses  belajar mengajar bahasa kedua. Fungsi ini juga bermanfaat pada saat terjadinya kesalahan, yakni berfungsi sebagai panduan dalam jangka waktu yang panjang. Teori ini akan bertahan sampai dengan adanya pernyempurnaan atau penemuan baru yang lebih baik.  Fungsi teoritis mempunyai dua manfaat utama, yaitu (1) meberikan gambaran mengenai proses penggunaan bahasa dewasa ini. Gambaran dapat diperoleh dengan mengganalisis bahasa pemakainya. Berdasarkan kesalahan yanad didapati dapat diperoleh gambaran bagaimana pemerolehan bahasa atau pemakaian bahwa dewasa ini dan (2) memberikan gambaran mengenai strategi belajar bahasa yang dilakukan oleh  pembelejar bahasa. Gamabaran yang diperoleh akan menajawab pertanyaan-pernyataan, seperti mengapa ia melakukan kesalahan, mengapa bahasa sulit diapahaminya, dan bagaimana cara mengatasi kesalahan-kesalahan tersebut. Berdasarkan jawaban itu akan disusun teori-teori yang dapat mencegah terjadinya kesalahan pada bagian dan waktu lain.

5.      Kontribusi Penelitian
Sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk hal-hal sebagai berikut ;
(1)   Dari segi keilmuan hasil penelitian ini, antara lain, dapat menamabag dan memperluas wawasan penulis dan pihak lain yang berkepentingan dengan masalah yang diteliti.
(2)   Dari segi kepraktisan hasil penelitian-penelitian ini dapat menjadi bahan masukan bagi pihak-pihak yang berkepentingan, terutama masyrakat dan pemerintah daerah dalam hal pelaksaan gerakan disip;in nasional, khususnya disilplin berbahasa terkait de3ngan wacana RUU kebahasan yang sedang digulirkan. 

6.      Sumber Data
Sumber data penelitan ini adalah koran harian Serambi Indonesia Rubrik Kutaraja yang diterbitkan bulan Mei-Juni tahun 2013.

7.      Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Penggunaan metode tersebut untuk memperoleh deskripsi secara faktual mengenai hal-hal yang akan diteliti sedang berlangsung pada masa sekarang. Penelitian yang dilakukan semat-mata hanya berdasarkan fakta yang ada atau fenomena yang ada sehingga yang dihasilkan atau yang dicatat berupa perincian seperti potret paparan bagaimana adanya (Sudaryanto 1988b:62).

8.      Teknik Penelitian
8.1  Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data penelitian ini menggunakan teknik observasi daan teknik catat atau ream (Mahsunb : 2005). Teknik ini dilakukan untuk memperoleh data secara langsung dari objek penelitian. Pemgantan dilakukan pada koran harian Serambi Indonesia rubrik Kutaraja yang diterbitkan pada  Mei-Juni 2013. Data kesalahan pemakaian diksi yang teramati dicatat atau direkam akan dijadikan korpus data.

8.2  Teknik Pengganalisisan Data
Data yang sudah terkumpul atau data terindentifikasi dicatat dalam korpus data. Selanjutnya, data tersebut diklasifikasikan dan dianalisis berdasarkan aspek dan tipe kesalahan. Sesuai dengan karakteristik data yang ingin diperoleh, pengganalisisan data penelitian ini menggunakan teknik kualitatif. Hal ini sesuai dengan karakteristik data yang dideskripsikan (Mahsun 2005). Berkaitan dengan ini, Ellis (dalam Tarigan, 1995:86) mengemukakan bahwa langkah kerja analisis kesalahan berbahasa adalah mengumpulkan data, mengindentifikasikan data, menjelaskan kesalahan, dan menggevaluasikan. Kemudian, untuk menentukan aspek atau tipe kesalahan yang dominan terjadi digunakan rumus presentase berikut.

P=f/N x 100%
Keterangan
P = Angka Presentase
F= Frekuensi Dicari Presentasenya
N=Jumlah yang Dijadikan Data
100% = Nulai tetap (Sudijono 19996)




DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud. 1991. Pendoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Depdiknas. 2003. Pengindonesiaan Kata dan Ungkapan Asing. Jakarta: Pusat Bahasa.

Dewan Pers. 2013. Pers Berkualitas, Masyarakat Cerdas. Jakarta: Dewan Pers

Dewan Pers..2012. UU Pers dan Peraturan-peraturan Dewan Pers. Jakarta: Dewan Pers

Mahsun. 2005. Metode Penelitian Bahasa. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Samarin, William J. 1998. Ilmu Bahasa Lapangan. (Terjemahan Yus Badudu). Yogyakarta: Kanisius.

Sapani, Suardi. 1986. “Analisis Kesalahan Berbahasa dalam Karangan Siswa Kelas 2 SMA 2 SMA Negeri Kodya Bandung”. Tesis IKIP Bandung.

Raihan. 2012. “Analisis Kesalahan Penulisan Bahasa Aceh pada Media Lur Ruang di Kota Banda Aceh”. Skripsi Unsyiah.

Sudaryanto. 1988b. “Metode Linguistik Bagian Kedua: Metode dan Teknik Pengumpulan Data. Yogyakarta: Gadjah Mada University Prees.

Sudijono, Anas. 1996. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: Raja GtadindoPersada.

Tarigan, H.G. 1995. Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Setyawati, Nanik. 2010. Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia. Surakarta:Yuma Pustaka.


Share: