Pedoman Penulisan Fonetik Bahasa Aceh

Penulisan fonetik dalam bahasa Aceh terbagi menjadi vokal, vokal sengau, diftong, dan konsonan.

Kegigihan Sang Teuku Umar dalam Memperjuangkan Kemerdekaan

Bagi penggemar sejarah tentu anda akan tertarik untuk membaca buku ini, sebagaimana buku ini mengisahkan tentang berbagai peristiwa panglima aceh dalam memperjuangkan kemerdekaan...

Kebangkitan Bahasa dan Sastra Aceh

Harian Serambi Indonesia edisi, Jumat 16 Desember 2022 merilis berita dengan judul Mulai Dari Pemanfaatan Pangan Lokal Hingga Makna ‘Rateb Doda Idi’

Hermeneutika dan Positivisme Logis

Filsafat telah membawa perubahan yang begitu penting dalam dunia pendidikan.

Showing posts with label aceh. Show all posts
Showing posts with label aceh. Show all posts

Resensi Buku: Kegigihan Sang Teuku Umar dalam Memperjuangkan Kemerdekaan

 


Identitas Buku


Judul   : Teuku Umar Leadership
Penulis : Zainal Putra dan Jasman J. Ma’ruf
Penerbit   : Kencana
Tahun terbi  : 2022
Tebal halaman  : 254 halaman
Ukuran buku   : 15.5 x 23 cm
ISBN : 978-623-384-183-2
Harga   : Rp100.000


Bagi penggemar sejarah tentu anda akan tertarik untuk membaca buku ini, sebagaimana buku ini mengisahkan tentang berbagai peristiwa panglima aceh dalam memperjuangkan kemerdekaan, khususnya tentang Teuku Umar. Tidak hanya itu, banyak sejarah aceh lainnya yang dibahas dalam buku ini, mulai dari masa kejayaan kerajaan Aceh Darussalam, raja-raja kerajaan Aceh Darussalam dan juga ada sejarah meletusnya perang padre di Minangkabau.

Gambar 1. Tangkapan layar resensi buku Teuku Umar yang diulas pada Youtube. 

Buku ini merupakan sebuah pembelajaran dari seorang panglima perang Aceh dan mendeskripsikan nilai-nilai kepemimpinan yang terdapat pada sosok Teuku Umar selama perjuangannya menghadapi penjajahan Belanda. Teuku Umar merupakan seorang panglima perang yang sangat gigih melawan penjajahan Belanda di bumi Aceh. Beliau sangat ditakuti oleh musuh dan menjadi buah  bibir di seluruh penjuru Nusantara. Dibalik ketokohan dan mental heroik dari seorang Teuku Umar kita dapat memetik nilai-nilai kepemimpinan  sangat relevan yang dapat kita terapkan sebagai pemimpin dalam berbagai organisani dan lintas budaya. Upayanya begitu besar dalam membangun loyalitas pengikut untuk mencapai tujuan bersama. Semangat beliau tidak pernah terkuras, begitu pula dengan sosok istrinya yang senantiasa membatu beliau dalam memperjuangkan kemerdekaan. Teuku umar sangat berpengaruh dalam memberikan motivasi kepada masyarakat aceh, beliau terus-terusan membangkitkan masyarakat aceh untuk membela tanah aceh. 




Teuku Umar lahir pada tahun 1854 M di Meulaboh,di Gampong Mesjid, sekarang bernama Gampong Belakang, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat. Ayahnya bernama Teuku Mahmud anak dari Teuku Nanta Chik, ibunya bernama Cut Mohani, puteri Teuku Suloh. Teuku Umar merupakan anak ke 3 dari 6 bersaudara, yang terdiri dari 4 orang laki-laki yaitu: Teuku Cut Amat, Teuku Putih Simalur, Teuku Umar dan Teuku Musa dan 2 orang perempuan. Namun, 2 orang saudara perempuan tidak dijelaskan namanya. Teuku Umar memilik empat orang istri, yaitu: istri pertama Cut Nyak  Meuligo, putri Teuku Abas, panglima  Seri Setia Ulama Kepala Sagi XXV Aceh Besar, Lhok Nga, istri kedua Cut Nyak Safiah, anak Teuku Imum Leupeung, istri ketigaCut Nyak Din, seorang janda muda, dan istri keempat Cut Nyak Alooh binti Teuku Maharadja Lhok Seumawe. 

 

Teuku Umar memiliki perjuangan perang yang panjang dalam menghadapi  Belanda dengan perang yang dimotori dan diikuti oleh beliau,ada beberapa peperangan yang beliau ikuti diantaranya : perang Aceh I dan II pada saat itu meletus  sekitar tahun 1873, Teuku Umar masih berusia 19 tahun sudah mengikuti perang demi mempertahankan Kutaraja sebagai utusan pemuda dari Meulaboh ,kemudian perang Meulaboh, pada tahun 1877 Teku Umar bersama dengan Teuku Chik Muda yang juga pamannya memepertahankan Meulaboh dari agresi belanda. Teuku Umar syahid pada tanggal 11 Februari 1899 saat terjadi pertempuran dengan pasukan Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Van Heutzs di daerah Suak Ujong Kalak, Meulaboh. Tapi beberapa sejarah menyatakan Teuku Umar wafat tanggal 10 Februari 1899. Adapun setelah tertembak bersibah dara dan menyadari ajalnya akan tiba, Teuku Uar berpesan kepada Pang Laot, seorang kepercayaannya: “Kutitipkan rakyat dan tanah Aceh ini sedapat yang bisa engkau kerjakan. Selamat dari cengkeraman si kafir, penjajah Belanda. Sampaikan salam dan pesanku pada Cut Nyak Dhien, istriku.” (hal:48)

 Jenazah teuku umar dibawa lari oleh pengikut setianya ke pucok lueng pedalaman Suak Raya , dan melalui reudeup dibawa ke Pasie Megat , Tanjong Meulaboh untuk dimakamkan di dekat makam ibunya.Besarnya jasa Teuku Umar dalam melawan belanda , maka pada tahun 1955 Teuku Umar diangkat oleh presiden RI sebagai pahalwan nasional , melalui surat keputusan presiden dan diperingati untuk pertama kalinya pada tahun 1957.

 Dari catatan sejarah , diketahui bahwa Teuku Umar hidup hanya sampai umur 45 tahun , dari 1854 -1899. teuku umar sudah berjuang melawan belanda sejak umur 19 tahun .berarti secara keseluruhan ia telah berjuang selama 26 tahun melawan kafir Belanda.

Kepemimpinan Teuku Umar  (Teuku Umar Leadership) dapat kita kupas bahwa sanya beliau memiliki sejumlah karakteristik kepemimpinan yang sangat berpengaruh terhadap pengikutnya. Beliau memiliki kecerdasan dan kesopanan yang tercermin dari penilaian Van Heutsz, seorang jenderal belanda:

“Teuku Umar Adalah ‘Burung’ Yang Luar Biasa Cerdik,Muda,Ganteng,Seorang Aceh Yang Amat Sopan,Kacak,Berdaya Giat Dan Nekad. Banyak kerugian yang dibuat Umar terhadap kita”. Van menggunakan istilah  “burung”, yang bermakna bahwa penjajah Belanda sangat berkeinginan untuk menangkap sosok Teuku Umar dengan bujuk rayu, ataupun dengan janji yang muluk-muluk. Keberanian Teuku Umar juga terlihat dari pembelotannya terhadap Belanda dan melakukan pembelotan terhadapa Belanda. Dari budi luhurnya beliau, rurat kabar Belanda menyiarkan “ de gevangenen zijn over het algemeen redelijk goed behandeld”, artinya para tawanan diperlakukan dengan baik. (hal:162-163) . Bahkan hasil perdagangan ladanya dengan pihak internasional digunakan sebagai dana perjuangan yang menunjukkan bukti kedermawanan beliau.

Terkandung banyak sejarah dan pesan yang dapat kita ambil adalam buku ini. Sejarah yang tercantum tidak hanya tentang Teuku Umar saja melainkan asal usul bahkan masa kejayaan kerajaan Aceh Darussalam. Banyak juga terkait perang dan kisah panglima lainnya dalam menghadapi penjajahan. Tidak hanya pemimpin yang dibahas melainkan teori, konsep, pengukuran bahkan juga terbukti kepemimpinan Teuku Umar  mencerminkan kepemimpinan islami yang didalamnya masih berpedoman dengan Al-Qur’an dan Hadis. Dengan berbagai gaya kepemimpinan yang dibahas, ilmu kepemimpinan tersebut bisa berdampak kepemimpinan terhadap individu dan organisasi. 

Namun,  banyak istilah, pepatah, dan kata yang harus diterjemahkan dapat membuat orang asing kurang bisa memahami dan bahkan kurang tertarik , padahal istilah tersebut memiliki makna yang sangat penting,dan adapula sebagian pepatah sudah di terjemahkan. Adapun contoh pepatah yang tercantum diantaranya:

Meuri-ri kayee taikat beunteueng, meuri-ri ureung ta pula guna”. Kiasannya: tiap-tiap orang mempunyai watak dan kemauan yang berbeda-beda, oleh sebab itu hanya pada orang yang baik kita dapat menananm budi). 


 Banyak ditemukan pendapat sejarah yang berbeda-beda tanpa alasan yang kuat juga membuat pembaca susah memahaminya. Walaupun tercantum teori yang berbeda-beda namun untuk lebih memahaminya kita harus mencari lebih lanjut di sumber lain. Pendapat yang berbeda mengenai sejarah salah satunya terdapat pada tahun kelahiran Teuku Umar, menurut Teuku Dadek, seorang sejarawan Aceh Barat menerangkan bahwa Teuku Umar lahir pada tahun 1854 M di Meulaboh, sedangkan menurut Kamajaya, Dumadi, Said & Wulandari, Safwan,  menyebutkan bahwa Teuku Umar lahir pada tahun 1854 di Meulaboh. Adapun literatur sejarah lainnya menyebutkan Teuku Umar lahir di Meulaboh pada tahun 1859 M.

Namun, di dalam buku memang adanya pembahasan tentang teuku umar memiliki istri lebih dari 1 orang, tetapi tidak adanya penjelasan tentang mengapa teuku uamar berpoligami ( yaitu menikah lebih dari satu ), juga tidak ada diaebut kan siap nama atau siapa pengkhianat dari rombongan teuku umar itu sendiri.
Teuku Umar merupakan seorang motivator yang sangat bijaksana, cerdas, berbudi luhur, dan memiliki kemampuan untuk membangkitkan semangat pemuda Aceh, khususnya bagi generasi-generasi muda yang akan melanjutkan kepemimpinan. Banyak hal yang dapat kita pelajari dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun bukan di medan perang, namun dalam sebuah organisasi pastinya kita sangat memerlukan seorang pemimpin yang baik. Dari buku ini kita bisa menanggapi bahwa sanya Teuku Umar sudah memiliki jiwa kepemimpinan sejak kecil. Belua sudah mulai berperang di usia 19 tahun. Dengan buku ini kita bisa menumbuhkan rasa cinta tanah air yang kuat, seperti sosok Teuku Umar.



Catatan 
Resensi ini ditulis oleh mahasiswa Universitas Teuku Umar untuk memenuhi tugas perkuliahan bahasa Indonesia. Resensi ditulis oleh Putri Rahmawati dan Nisa Asna Wati. 



Share:

Pedoman Penulisan Fonetik Bahasa Aceh

Bagi Anda yang ingin menulis bahasa Aceh dengan penulisan fonetik, berikut ini penulis sertakan penulisan fonetik sesuai dengan IPA (International Phonetic Alphabet). 

Penulisan fonetik dalam bahasa Aceh terbagi menjadi vokal, vokal sengau, diftong, dan konsonan. Masing-masing penulisan tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini. 

Vokal
Bahasa Aceh mempunyai 17 vokal tunggal. Sepuluh vokal tunggal dihasilkan melalui mulut, yaitu a, i, e, è, é, eu, o, ô, ö, dan u. Kesepuluh vokal tunggal ini diberi nama vokal oral. Tujuh vokal lainnya dihasilkan melalui hidung, yaitu ‘a, ‘i, ‘è, ‘eu, ‘o, ‘ö, dan ‘u. Ketujuh vokal ini disebut vokal nasal (Wildan, 2010).

Gambar 1. Penulisan Vokal

Vokal Sengau 
Vokal sengau dalam bahasa Aceh terdiri atas 12 yakni
  1. 'a
  2. 'i
  3. 'u
  4. o
  5. ‘ö
  6. eu
  7. ei
  8. ui
  9. ôi
  10. ‘ai
oi/ ôi/ öi

Kedua belas vokal sengau tersebut ditulis dalam lambang fonetik sebagai berikut. 
Gambar 2. Penulisan Fonetik untuk vokal sengau dan diftong. 

Dalam bahasa Aceh juga terdapat konsonan yang meliputi, 
  1. ng
  2. ny
  3. sy / sh 
  4. ph
  5. th
  6. dj
  7. zh
  8. ch/kh
  9. gh
  10. jh
  11. dh
  12. t
  13. k
  14. kr
  15. rh
  16. cr
  17. lh
  18. dr

Adapun penulisan vokal pada fonem di atas dapat dilihat pada gambar di bawah ini.








Share:

Hikayat Malem Dagang / Diwa

SINOPSIS

Hikayat Malem Dagang menceritakan tentang perjuangan para pahlawan Aceh.Tersebutlah Sultan Iskadar Muda salah satu pahlawan yang diceritakan di dalam hikayat ini. Raja yang adil dan bijaksana sangat arif mengatur rakyat. Dalam hal menjalankan tugasnya Sultan Iskandar Muda tidak pernah membedakan status sosial. Dan tidak ada rakyat yang tidak menyukai dirinya ketika memerintahkan bumi Aceh. Negeri Aceh merupakan wilayah yang sangat luas diantaranya kota Banda Sebagai pusat ibukota. Sehingga Banyak para pendagang luar yang menggelarkan lapaknya untuk berjualan di Aceh. Semua hal yang diperlukan rakyat aceh bisa terpenuhi dengan adanya pedagang luar yang datang ke Aceh.
Jalur laut merupakan jalur alternafit pada masa itu untuk  melabuhkan kapal para pedagan ini. Diantara barang yang mereka datangkan antara lain berupa tembakau rempah – rempah dan bahan bangunan . sejak kedatangan para pedagang kehidupan rakyat hidup makmur dari timur hingga barat.
Kemakmuran rakyat aceh tersebar kemana – mana dan banyak anggapan dari mereka mengatakan karena sebuah agama yang mereka anut. sehingga membuat Putroe Phang dan Raja Raden datang ke Aceh untuk memeluk agama islam. Sebelumnya raja Raden dan Putroe Phang berasal dari Banang Malaka. Setelah memeluk agama islam Raja Raden menikahkan adiknya Putroe Phang dengan Sultan Iskandar Muda. Dan Raja Raden menikah dengan adiknya Sultan Iskandar Muda.  Tidak lama kemudian datanglah Raja Ujud dengan armada perangnya. Putri Pahang memerintahkan rakyatnya untuk menerima  Raja Ujud dengan upacara adat. Kedatangan dari Raja Ujud ingin membujuk abannya atau raja Raden untuk kembali pulang ke Malaka.  Namun, raja Raden tidak menyetujui ajakan dari Raja Ujud. Penyataan yang dilontarkan oleh raja Raden membuat Raja Ujud merasa Jengkel dan marah. Raja Raden menasehati Raja Ujud untuk tidak takabur karena sebelumnya sultan telah memberi izin untuk menguasai daerah Ladong, Peukan, dan Krueng Raya.
Raja Ujud Marah dan membumi hanguskan daerah Krueng Raya, terjadi perampokkan dan pembunuhan. Si Ujud menantang sultan untuk berperang di Malaka. Setahun sejak peristiwa itu, sebatang kayu tedampar di pantai dan sultan membuatnya menjadi sebuah kapal. Kapal itu yang akan menaklukan setiap negeri.  Kapal itu dilengkapi dengan 3 buah gendrang. 1 ditempatkan di haluan di beri nama akidatoi umu. Satu di Gulitan diberi nama Tulak Mara yang ditengah di beri nama Kasirah Hairan. sultan Memberi nama kapal itu dengan nama cakra donya ketika di tarik ramai – ramai kapal itu tidak bergerak setelah baginda meminta para ulama membaca doa baru kapal itu muncul.
Sultan meminta pendapat Putri Pahang dalam memburu si Ujud. Putri mengatakan ada 3 hal yang harus diperhatikan. Pertama arus di perairan malaka sangat deras. Kedua banyak lawan di Asahan. Ke tiga di laut Banang tidak boleh dibunyikan meriam karena ada wali yang bersemayam di tempat itu. Armada sultan berlayar di malaka melaui darat. di Sigli disambut rakyat Pidie dengan panglimanya Maharaja Indra.
Sultan memerintahkan supaya kapal perang Pidie mengikuti Cakra Donya dan melanjutkan ke Meurudu. Raja Pakeh mengatakan Sultan tidak mengangkat seorang hulu baling di Meurudu. Raja Pakeh diminta sultan supaya ikut ke Malaka. Anak negeri yang tidak ikut antara lain wanita. oleh sultan diberi modal menenun kain. Baginda melanjutkan perjalanan melalui Pedada. Peusangan juga mempunyai 5 kapal dan mengikuti cakra donya.  Akhirnya sultan tiba di Lhoksemawe. Raja Pakeh menceritakan asal usul nama lhoksemawe.
Tempat itu menjadi dalam karena pasirnya banyak diambil oleh Ibrahim Papa. Demikian pula nama  Paseh yang berasal dari nama seekor anjing kepunyaan Ibrahim Papa. Panglima Pidie Maharaja Indra tidak bersedia karena alasan tidak memiliki ahli family. Baginda mencalonkan Malem Dagang yaitu cucu raja Pakeh sendiri. Raja Pakeh sendiri tidak setuju karena ia masih sangat muda.  Dengan janji Malem Dagang akan diberi wilayah yang  meliputi Asahan. Malem dagang menanyakan pendapat panglima yang lain. Semua menunjuk Malem Dagang.  Raja pakeh pun memberi semangat perang suci melawan musuh agama.
Tiga hari tiga malam dalam pelayaran sampailah armada besar itu di Asahan. Negeri asahan diperintahkan oleh seorang raja yang belum beragama namanya Raja Muda. Banyak negeri yang ditaklukan dan banyak putri raja serta harta benda dirampasnya sultan memerintahkan Malem dagang untuk membuat negeri asahan akan dihadang. Malem dagang dagang mengatakan bahwa armadanya akan menuju negeri Johor. Meskipun telah disarankan oleh utusanya oleh armada supaya armada malem dagang jangan dihadang. Namun raja muda tetap tidak menyerah. Raja mengerahka pasukannya armada malem dagang ditembakknya selama 7 hari. Tetapi malem dagang dengan 900 kapal  perangnya dipimpin oleh malem dagang sendiri oleh raja raden dan panglima Pidie akhirnya benteng istana dapat ditaklukan pasukan raja muda kucar kacir malem dagang menawan permaisuri raja asahan yang bernama putri kemala donya.
Sesudah tiga hari tiga malam sultan menyarankan perjalanan tidak lanjutkan sebaiknya menunggu si Ujud dengan membangun benteng pulau weh. Tetapi malem dagang bertetap hati untuk melanjutkan pelayaran ke Malaka. Sesudah 7 hari permaisuri dilaut raja muda beserta rakyatnya turun dari gunung dan raja muda menjumpai malem dagang untuk menembus permaisurinya dengan harta benda.
Malem dagang menolak tebusan raja muda kemala donya akan dibalikan bila raja muda mau memeluk agama islam. Kemala sendiri sebenarnya ingin mengikuti malem dagang ke aceh setelah memeluk agama islam putrid kemala diminta malem dagang untuk mengikuti suaminya. Yang baru memeluk agama islam pulang ke Asahan.
Armada malem dagang melanjutkan perjalan selama 7 hari tibalah di Malaka. Kuala banang tempat mereka istirahat sultan mengingatkan malem Pakeh untuk tidak membunyikan meriam seperti yang sudah diperingatkan oleh putrid Pahang.
Pada suatu ketika mereka bertemu dengan ayah putri Pahang lalu dipertemukan dengan sultan. Ayah putri Pahang bersedia membantu sultan untuk memburu Ujud. Sesampai di  johor meriam dibunyikan, tetapi tidak balasan dari darat. Ternyata si Ujud sudah berangkat ke johor dalam rangka persiapan menyerang negeri aceh. Di pantai johor lama sultan membangun 7 buah benteng yang kokoh. Sesudah 17  bulan armada sultan di johor. Armada si Ujud muncul di laut penang. Malem dagang meminta izin kepada raja Pakeh untuk menyerang. Raja Pakeh untuk bersabar 2 tiga hari dan disuruh masuk kedalam kamar sembahyang dan membaca al qur’an.
Raja pakeh memerintahkan untuk memberitahukan kepada sultan di johor. Bahwa armada si Ujud sudah berada di kuala Banang. Malem dagang mohon izin dari sultan tetapi beliau menyerahkan hal itu semuanya kepada raja Pakeh. Sesudah raja pakeh member izin malem dagang memakai seragam perang. Meriamnya ke arah kapal – kapal si Ujud. Disusul raja raden dan panglima berpuluh – puluh kapal.
Pasukan si Ujud tidak menyangka bahwa yang menyerang pasukan dari aceh. Disangka seranganya itu datang dari banang sendiri. Si Ujud sendiri masih berada di negeri Goha. Sementara itu angkatan laut malem dagang terus menyerang. Dalam serangan itu raja Muduwenata tewas dan banyak kapalnya tenggelam. Sisanya sepuluh  buah kapal melarikan diri ke Goha. Tak lama kemudian si Ujud  mengetahui mertuanya meninggal. Demikian pula istrinya amat sedih mendengar ayahnya telah tewas. Si Ujud sangat marah dan segera menggerahkan seluruh rakyatnya untuk berlayar dan menuju laut banang.
Sampai disana mereka mengepung armada malem dagang dari segala jurusan. Malem  dagang berkerja sama dengan raja Pidie memimpin pertempuran. Bekar doa Je Pakweh tidak satu pun kapal Malem Dagang yang tenggelam. Sudah tiga bulan perang berkecamuk. Si ujud mulai kewalahan. Pasukannya lari dan hanya tinggal sebuah kapalnya. Si ujud berhadapan lansung dengannya. dengan pedang di tangan ia menantang malem dagang. Namun raja ujud kalah dan berhasil di tawan kemudian dirantai dan dibawa ke sultan.
Armada kapal sultan iskandar muda meninggalkan laut banang pulang ke aceh. Raja malaka mendengar kabar bahwa anaknya sudah menjadi tawanan ia pun melarikan diri bersama pengikutnya ke gunung. Sebulan lamanya sultan beristirahat di Asahan. Di pulau Ruja ujud dijatuhi hukuman mati tetapi tidak ada senjata yang menghabiskan nyawanya. Si ujud sendiri memberitahukan bahwa ia akan mati dnegan dimasukkan timah panas ke dalam mulutnya. Dengan cara itulah raja johor dari Guha Meninggal. Semua pasukan pulang ke tempatnya masing – masing dan baginda merasa sangat puas depat mengalahkan musuhnya.

1.       TEMA : Perperangan
2.       AMANAT : bersikap takabur tidak hanya akan merugikan diri sendiri.
 Di atas langit masih ada langit yang membentang karena tidak ada kekuatan yang bisa mengalahkan kekuatan Allah.
3.       TOKOH
·         Tokoh Utama
-          Sultan Iskandar Muda
-          Raja Raden
-          Raja Si Ujud
-          Malem Dagang
-          Ja Pakeh
·         Tokoh Bawahan
-          Putri Pahang
-          Maharaja Indra
-          Raja Muda
-          Putri Keumala Donya
-          Raja Modeulikah
-          Raja Malaka

4.       PENOKOHAN
·         Sultan Iskandar Muda : tegas, setia, bijaksana, adil
·         Raja Raden : tetap pendirian,
·         Raja Si Ujud : licik, egois, jahat, serakah,
·         Malem Dagang : pemberani,
·         Ja Pakeh : taat beribadah, mendalami ilmu agama,

5.       ALUR : Alur Campuran

6.       LATAR/SETTING

Ladang krueng raya, Pidie, Meurudu, Pesangan, Lhok semawe, Jambu Aye, Asahan, Malaka, Kuala Banang, Johor Lama, Pulau We, diatas Kapal, Istana, Pulau Huja.

7.       Sudut Pandang
Sudut pandang orang ketiga . pada hikayat malem dagang penulis serba tahu,Penutur berada di luar cerita menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama, cerita itu sendiri.
Dalam hal ini pengarang bertindak seolah-olah mengetahui segala peristiwa yang dialami tokoh dan tingkah laku tokoh. pengarang melukiskan apa yang dilihat, didengar, dialami, dipikir, dan dirasakan oleh tokoh cerita, namun terbatas hanya pada seorang tokoh atau dalam jumlah yang sangat terbatas. Walaupun terdiri atas tokoh  yang banyak. Penutur  tidak diberi kesempatan untuk menunjukkan sosok dirinya seperti halnya tokoh pertama.

8.       Gaya Bahasa
Mengunakan Majas Hiperbola
Mengunakan Majas sinestisia
Mengunakan Majas Simbolik

9.       Latar sosial
Adanya ketidak pastian yang dikemukan penutur dalam hikayat malem dagang sehingga berkesan dalam kehidupan masyarakat rasa ketidak percayaan.

Share:

Pantôn Aceh


  Pantôn Aceh 

Pantun merupakan bentuk puisi Indonesia (Melayu), tiap bait (kuplet) biasanya terdiri atas empat baris yg bersajak (a-b-a-b), tiap larik biasanya terdiri atas empat kata, baris pertama dan baris kedua biasanya untuk tumpuan (sampiran) saja dan baris ketiga dan keempat merupakan isi (KBBI), begitu juga dalam karya sastra aceh dikenal juga dengan pantun (Pantôn). Tak terlepas dari kaidah semantik, pantôn aceh juga memiliki syarat yang sama halnya yang terdapat dalam pantun bahasa Indonesia. Pembagian panton aceh juga dipisahkan antara umur penggunanya, diantaranya (Pantôn Aneuk Miet, Pantôn Aneuk Muda, dan Pantôn Uréng Tuha). 

Karya sastra aceh berupa pantun ini tidak bisa dipisahkan dengan tempat penggunanya, orang aceh sendiri sangat seksama menempatkan tempat dimana untuk membacakan pantun ini. Sehingga digolongkan menjadi : (Pantôn mu ba e ( duka cita), Pantôn ayôn (meninabobokan anak), aneuk, Pantôn uroe kiamat, Pantôn prang sabi, pantÔn meuratoh, Pantôn meulayeng, Pantôn mehoi, Pantôn meusenda (jenaka), Pantôn jaga tuloe (aneuk muda) Pantôn agama, Pantôn adat, Pantôn nasihat). Maksud yang diutarakan dalam panton aceh juga beragam, dahulu kala pantun ini digunakan untuk menyambut pasangan antar lintöé / dara baroé. Mereka saling berbalasan pantun, jika salah satu diantara mereka tidak ada yang kalah maka budaya berbalas pantun terus dilanjutkan hingga diantara mereka ada yang kalah, jika si tuan rumah kalah ketika berbalas pantun maka tamunya dipersilahkan masuk kerumah, namun adaikata si pengantar linto / darabaroe yang kalah. Maka mereka tidak diperkenankan masuk kerumah, dan kembali pulang kerumahnya. Namun mengingat banyak mudharat yang ditimbulkan budaya berbalas pantun (séumapa) maka tradisi lama ini tidak dipakai dan lebih ditinggalkan, meskipun ada, hanya sebatas membalas pantun biasa (Sastra Daerah Aceh

Jika ditinjau dari tipologi (bentuk penulisan) Pantôn aceh tidak ada yang menunjul selain tata letaknya yang monoton tidak ada berubah disebabkan pantun aceh adalah karya sastra lama (kontemporer). Namun ada satu sisi yang sangat menonjol dari Pantôn aceh dengan pantun bahasa Indonesia, berupa sajak dan permainan bunyi, jika pantun bahasa Indonesia
persajakannya terdapat di akhir kata, namun pantun aceh selain di akhir kata, sajaknya juga terdapat pada tengah kata itu sendiri. Sehingga yang membedakan antara pantun aceh dan Indonesia bisa kita temukan dengan jelas ketika membacakannya. 

Disisi lainnya pantun aceh juga terdapat buhu, pakok (persajakan, permainan bunyi), menjadi pola tersendiri bagi karya sastra aceh mengwajibkan menyisipi buhu, pakök tersebut, bisa kita temukan dalam karya sastra aceh berupa (hikayat, hiem, Pantôn, caé). Sebagai contoh saya sebutkan ; limong limong kapai jitamong dua go limong kapai jibungka nyo hantrok lon cot ngon reunong nyan bungong lon pupo geulawa (Pantôn aneuk muda) pada akhir kalimat kata jitamong, bunyi ong berulang kembali pada kalimat kedua di bagian tengah kata limong, selanjutnya pada persajakan kata jitamong berulang di akhir kalimat ketiga pada kata reunong. Pada persajakan selanjutnya, kalimat kedua berulang pada persajakan kalimat ke empat. Diantarnya kata jibungka yang terdapat pada akhir kalimat kedua berulang persajakan pada akhir kata kalimat ke empat geulawa Menyangkut persajakan, pantun aceh mempunyai pola persajakan yang sama dengan pantun yang digunakan dalam bahasa indonesia (ab,ab, aa, aa). 

sedikit susah membuat pantun aceh dibandingkan dengan pantun bahasa Indonesia, pertama harus mencocokan persajakan pada awal di akhir kata seterusnya kalimat dan di tengahnya untuk disesuaikan sajaknya, namun disitulah terdapat perbedaan yang sangat penting untuk membedakannya. “Jika pantun bahasa aceh menggunakan persajakan di akhir kata maka pantun tersebut tidak bisa dikatakan pantun aceh, tetapi lebih tepatnya pantun Indonesia berbahasa aceh”. Rahmad Nuthihar, Mahasiswa FKIP Unsyiah
Share:

Sastra Aceh


Sastra Aceh telah berkembang seiring zaman perkembangan peradaban dan sejarah dari abad ke abad, dan baru dikenal (disalin) pada abad ke 14, namun sastra lisan telah berkembang sejak Aceh dikenal pada abad ke 9. 

Jika ditilik perbedaan sejarah sangat jauh jangka panjang antara lisan dan tulisan. Namun,, belum tentu hal tersebut benar, mengingat tidak ada satu sejarapun mencatat perjalanan sastra tersebut secara detail dan rapi, kita hanya dihadapkan pada naskah Manuskrip Sejarah raja-raja Pasai yang menggambarkan keberadaan Kesultanan Pasai.
          Bisa disebutkan bahwa Aceh merupakan daerah pusat kebudayaan Islam sebab dari negeri ujung Sumatera pada awal menyebarkan Islam di seluruh Nusantara, termasu didalamnya Malaysia dan Pathani, paling tidak masih ditemukan di dua negara tersebut karya-karya para ulama-ualam Aceh. Maka tak pelak, jika bumi Seuramoe Mekkah ini banyak mewariskan beragam corak sastra Islami. Dari bumi serambi Mekkah juga asal muasal pembaharuan sastra Melayu Indonesia. Yang berpengaruh dan membawa perubahan terhadap sastra Melayu Indonesia. Daerah Aceh memiliki aset kekayaan genre (cabang ) sastra klasik (classic literature).

          Ciri-ciri umum karya sastra klasik adalah sama dengan ciri sastra lama yaitu: a) bersifat anonim (tidak memiliki nama pengarang), b) bercorak ragam lisan diceritakan dan dibicarakan dari mulut ke mulut, c) bersifat turun temurun antar generasi ke generasi, d) jika berupa puisi unsur ritma dan sajak lebih dominan.
Dalam ikon puisi lama menurut Razali Cut Lani dalam karyanya berjudul Kesusastraan Aceh, dikenal beberapa jenis sastra classic yaitu: narit maja (peribahasa), neurajah (mantra), hiem (teka-teki), dan panton (pantun). Semua genre sastra tersebut merupakan jenis sastra tertua dan purba dalam sejarah perkembangan sastra Aceh. Untuk lebih jelas ihwal sastra kuno genre puisi ini akan saya bahas secara runtut berikut ini:


1.Narit Maja (Peribahasa)
Dalam tradisi masyarakat Aceh narit maja berfungsi sebagai pengendalian pranata sosial (control sosial) dan sebagai sarana penyampaian pesan moral.
Dalam narit maja juga mengandung nilai-nilai pendidikan Islam. Seperti terdapat dalam narit maja berikut: hana patot aneuk murid lawan gure/ nyo kon seude teunte gila. Terjemahan bebasnya adalah tidak patut seorang murid melawan gurunya, kalau tidak senu tentu gila. Demikianlah peribahasa Aceh sarat dengan nilai-nilai keagamaan. Agar lebih jelas mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam narit maja, baca: Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Narit Maja,
oleh: Iskandar (Skripsi mahasiswa STAIN Malikussaleh Lhokseumawe) dan Struktur dan Fungsi Narit Maja dalam Masyarakat Jambo Aye Aceh Utara, oleh: Hilmi Wilminar (Skripsi Mahasiswa PBSID, FKIP, Universitas Syiah Kuala) dalam kedua karya ilmiah tersebut membahas dan mengupas secara tuntas tentang narit maja.
 Razali Cut Lani dalam Kesusastraan Aceh juga telah membahas berbagai hal yang terlibat dalam peribahasa Aceh. Seperti unsur flora dan fauna dalam narit maja, ekonomi, perdagangan, sosial, adat istiadat, moral, keagamaan, kriminalitas, dan hal-hal lainnya secara runtun.
Kita ambil salah satunya sebagai contoh perdagangan dalam narit maja. Misalnya terdapat dalam narit maja berikut:
Tulak tong tinggai tem. Arti bebasnya: dorong tong, tinggal kaleng. Dalam peribahasa ini mengandung pengertian bahwa dalam usaha dagang--jual beli--setelah diperkirakan laba rugi dalam hal ini tidak ada yang diuntungkan, tetapi hanya mencukupi modal saja.
Bidang kriminalitas yang membawa dampak bagi hajat hidup orang banyak. Masyarakat Aceh sering menyebut narit maja:
gop pajoh boh panah/ tanyo yang meugeutah. Terjemahan bebasnya: orang yang makan nangka, kita yang bergetah. Orang lain yang berbuat salah kita yang mendapat efek dari kriminalitas tersebut. Dalam tulisan ringkas ini saya tidak merincikan satu persatu narit maja tersebut, karena itu tugas pribadi anda dirumah (PR).


2. Neurajah (Mantra)
Neurajah merupan jenis sastra tertua setelah narit maja. Jika ada orang yang bertanya siapakah pemilik puisi jenis mantra ini?. Maka jawabannya adalah pawanglah yang menjadi penyair genre mantra, karena pada mulanya pawang mengucapkan mantra-mantra untuk menjinakkan harimau, gajah, tawon, dan lain-lain.

  
3. Hiem (Teka - Teki)
Masyarakat Aceh dalam keseharian sering kumpul bersam sanak keluarga dan kerabat untuk berteka - teki sejenak. Teka - teki dalam masyarakat Aceh selain sebagai hiburan juga menjadi arena asah otak, karena dalam teka - teki juga mengandung unsur pendidikan. Walaupun unsur humor lebih dominan. contoh (kebe jak taloe dong)


4.Panton (Pantun)
Bagian terakhir dari puisi classic Aceh adalah pantun. Puisi empat baris yang terdiri atas sampiran dan isi. Baris pertama dan kedua disebut sampiran. Baris ke empat dan lima namanya isi. Panton Aceh dan pantun Indonesia memiliki ciri-ciri sama. Bersajak ab, ab. Sama halnya dengan narit maja, neurajah, dan hiem yang sebenarnya juga terdapat dalam konteks ke-indonesia-an sastra. Cuma dalam tulisan ini saya hanya membicarakan dalam corak sastra ke-Aceh-an.
Contoh pantun:
limong limong kapai jitamong
dua go limong kapai jibungka/
nyo hantrok lon cot ngon reunong
nyan bungong lon pupo geulawa


5. Cae’ atau syair adalah jenis puisi liris.

Sementara itu dalam ikon genre prosa lama di Aceh dikenal dengan prosa liris (hikayat), legenda, fabel, haba jameun (cerita rakyat/kabar zaman).

1. Hikayat adalah jenis prosa lama walaupun ada juga pakar sastra yang menyatakan bahwa hikayat itu jenis puisi liris, karena tipografinya seperti syair dan bersajak.

 Jika dilihat dari unsur intrinsiknya hikayat lebih cocok disebut prosa. Mengingat dalam hikayat lebih dominan ditunjang oleh setting (latar), tokoh, watak (karakter), konfliks dll. Umumnya hikayat bersifat istanasentris, dan cerita raja-raja. Namun ciri utama hikayat adalah anonim (tidak memiliki nama pengarang) seperti umumnya sastra lama lainnya. Ada juga beberapa hikayat yang memiliki nama pengarang seperti hikayat Prang Sabi karya Teungku Syiek Pantee Kulu. Namun dalam tulisan ini saya tidak merujuk kepada ciri umum hikayat. Di Aceh sarat akan hikayat warisan indatu misalnya : hikayat Raja-Raja Pasai, dan hikayat Malem Diwa.


2. Legenda adalah jenis cerita turun temurun bercerita tentang asal usul suatu geografis (asal nama daerah, asal mula sebuah pulau dan sebagainya).

 Contoh: legenda Ahmad Rhangmanyang yang menjadi pulau batu di Aceh Besar atau legenda si anak durhaka Malin Kundang di Padang, Sumatera Barat, legenda Nyai Roro Kidul, Gunung Tankupan Perahu, Jaka Tingkir (di Jawa), legenda Paya Terbang, legenda Raja Bakoi (di Aceh Utara), puteri Pukes, Loyang Koro, Pengantin Atu Belah (di dataran Tinggi Gayo, Takengon), dan legenda Tapak Tuan (di Aceh Selatan).


3. Fabel adalah cerita yang ditokohkan oleh binatang.

Jikapun melibatkan tokoh manusia, namun tokoh binatang dalam cerita fabel lebih dominan. Dalam fabel binatang menjadi aktor utama walaupun tanpa disutradarai oleh manusia cerita tepap berjalan sukses. Karena memang demikianlah sebuah fabel dikisahkan. Contoh fabel yang terkenal adalah Sang Kancil dan Harimau, Lutung Kasarung, dan Kera Sakti.


4. Haba Jameun (cerita rakyat) adalah kabar zaman yang diriwatkan dari mulut kemulut. Secara turun temurun.

Jika ada cerita rakyat yang terkumpul dalam sebuah buku itu bukanlah milik penghimpun. Melainkan milik semua masyarakat dimana cerita rakyat tersebut berkembang. Sebagai penghargaan kepada penghimpun cerita ini disebut sebagai penyusun atau editor buku tersebut. Seperti kumpulan Kabar Zaman Dari Aceh karya LK. Ara. Cerita rakyat yang terkumpul dalam buku tersebut adalah milik masyarakat Aceh. Tetapi LK.Ara sangat berjasa dengan menerjemahkan cerita rakyat Aceh ke dalam Bahasa Indonesia.

Haba jameun biasanya selalu diawali dengan pembukaan seperti berikut ini: bak jameun dile, na sibak bak jambe di leun. Trep nibak trep broek rumoh tinggai sudep… na saboh kisah, yang artinya: pada zaman dahulu ada sebatang pohon jambu di depan rumah. Lama kelamaan rusak rumah tinggal panggang… ada sebuah kisah. Contoh haba jameun : Abu Nawas dan Aneuk Yatim.


Share:

Imbuhan dalam Bahasa Aceh

 
Pemakaian Imbuhan dalam Bahasa Aceh

Apabila kita abaikan bentuk-bentuk imbuhan kata ganti yang telah kita bahas sebelumnya, maka jumlah imbuhan dalam bahasa Aceh lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan jumlah imbuhan yang ada dalam bahasa Indonesia. Juga imbuhan dalam bahasa Indonesia lebih rumit dibandingkan dengan imbuhan dalam
bahasa Aceh.

            Bila dalam bahasa Indonesia dijumpai bentuk imbuhan yang menyatakan pelaku (awalan pe-) atau dalam bahasa Arab disebut faa‘il, maka dalam bahasa Aceh tidak dikenal imbuhan untuk menyatakannya. Juga tidak dijumpai bentuk imbuhan yang sepadan dengan imbuhan pe- -an, per- -an dan ke- an. Demikian pula halnya dengan
akhiran, tidak dijumpai dalam bahasa Aceh.

            Sehingga permasalahan utama dalam penerjemahan bahasa Indonesia ke dalam bahasa Aceh adalah bagaimana cara menerjemahkan ketiga gabungan imbuhan di atas, yaitu pe- -an, per- -an dan ke- -an. Misalkan bagaimana menerjemahkan kata penyatuan, persatuan dan kesatuan.
AWALAN

  1.    Awalan Meu-

Awalan meu- memiliki makna yang hampir sama dengan awalan ber- seperti dalam bahasa Indonesia. Awalan ­meu- berubah menjadi mu- apabila berjumpa dengan kata berawalan huruf /b/, /m/, /p/ dan /w/. Perubahan ini tidak terdapat pada semua dialek. Beberapa dialek tetap mempertahankan bentuk aslinya.

Awalan meu- memiliki beberapa makna, yaitu:
  1. Bentuk awalan dari kamoë (kami)

    Contoh:
    Meu + Jak –> Meujak (kami pergi)

Meu + Woë –> Muwoë (kami pulang)

  1. Menyatakan kepemilikan.

    Contoh:

    Meu + Bulèë –> Mubulèë (berbulu)

Meu + Inong –> Meuinong (beristri)


  1. Menyatakan melakukan suatu perbuatan yang terdapat pada kata dasar

    Contoh:

    Meu + Adèë –> Meuadèë (berjemur)

Meu + Langu –> Meulangu (berenang)

Meu + Rumpok –> Meurumpok (berjumpa)

Menyatakan suatu perbuatan yang tidak sengaja dilakukan.

Contoh:

Meu + Koh –> Meukoh (terpotong)
Meu + Rôk –> Meurôk (terkunci)
Meu + Tak –> Meutak (tertetak)
 Bedakan dengan kata “meu” yang bukan bentuk imbuhan !!!

Kata “meu” yang bukan imbuhan ditulis secara terpisah.

  1. Menyatakan “agak”

Contoh:

Meu kreuëh : Agak keras

Meu seu’ië    : Agak meriang

  1. Berarti “saja”

    Contoh:

    Meu jih hana, peuë lom lôn (Dia saja tidak ada, apa lagi saya)
  1. Awalan Peu-

            Awalan peu- memiliki makna yang hampir sama dengan awalan per- atau akhiran –kan di dalam bahasa Indonesia. Awalan ­peu- berubah menjadi pu- apabila berjumpa dengan kata berawalan huruf /b/, /m/, /p/ dan /w/. Perubahan ini tidak terdapat pada semua dialek. Beberapa dialek tetap mempertahankan bentuk aslinya. awalan ini menyatakan membuat jadi

Contoh:

            Peu + Grak –> Peugrak (menggerakkan)
            Peu + Kreuëh –> Peukreuëh (perkeras)
            Peu + Mirah –> Pumirah (membuat jadi merah)
            Peu + Na –> Peuna (memperada)

  1. Awalan Teu-

            Awalan teu- hampir semakna dengan awalan ter- dalam bahasa Indonesia. Awalan ini menyatakan suatu perbuatan yang telah terjadi.

Contoh:

            Teu + Lheuëp –> Telheuëp (tercabut)
            Teu + Cok –> Teucok (terambil)
            Teu + Koh –> Teukoh (terpotong)


  1. Awalan Si-

      Awalan si- semakna dengan awalan se- dalam bahasa Indonesia. Awalan ini menyatakan hitungan satu

Contoh:

            Si + Bak –> Sibak (sebatang)

            Si + Krak –> Sikrak (sepotong)

            Si + Ribèë –> Siribèë (seribu)


  1. Awalan Keu-

Awalan keu- hanya terdapat pada penggunaan bilangan bertingkat.

Contoh:

            Keu + Phôn –> Keuphôn (kesatu)

            Keu + Duwa –> Keudwa (kedua)

            Keu + Tujôh –> Keutujôh (ketujuh)

Harap dibedakan dengan kata keu sebagai kata depan yang berarti kepada/untuk.

Contoh:

*      Nyoë keu kah (ini untuk kau)
*      Keu soë lônjôk nyoë? (kepada siapa saya berikan ini?)

SISIPAN

  1. Sisipan -eun-

            Sisipan –eun- memiliki makna yang hampir serupa dengan akhiran -an atau per- + -an dalam bahasa indonesia.

Contoh:

*   Balah (balas) –> Beunalah (balasan)

*   Pajôh (makan) –> Peunajôh (makanan)

*   Sambat (sambung) –> Seunambat (sambungan)

*   Sipat (ukur) –> Seunipat (ukuran)


Untuk kata kerja yang berawalan /r/ dan /l/

*   Lakèë (minta) –> Neulakèë (permintaan)

*   Rajah (rajahan) –> Neurajah (rajahan)

*   Untuk kata kerja yang berawalan bunyi hidup

*   Ubah (ubah) –> Neuubah (perubahan)

*   Ujoë (uji) –> Neuujoë (cara/alat menguji)


Untuk kata kerja bersuku satu

*   Koh (potong) –> Neukoh (potongan)

*   Poh (pukul) –> Neupoh (pukulan/pembunuhan)

Cat:

Neukoh : Kependekan dari “keuneukoh”

Neupoh : Kependekan dari “seuneupoh”


  1. Sisipan -eum-

Contoh:

*   Pajôh (makan) –> Pumajôh / Seumajôh (memakan)

*   Piké (pikir) –> Pumiké / Seumiké (memikirkan)

*   Teunak (maki) –> Teumeunak (memaki)




Untuk kata kerja yang berawalan /r/ dan /l/

Contoh
  • Lakèë (minta) –> Meulakèë (meminta)

  • Rajah (rajahan) –> Meurajah (merajah)

Untuk kata kerja yang berawalan bunyi hidup

  • Ubah (ubah) –> Meuubah (mengubah)
  • Ujoë (uji) –> Meuujoë (menguji)


Untuk kata kerja bersuku satu

*   Cop (jahit) –> Ceumeucop (menjahit)
*   Koh (potong) –> Keumeukoh (memotong)
*   Poh (pukul) –> Seumeupoh (memukul)
*   Rhah (cuci) –> Seumeurhah (mencuci)
*   Tak (tetak) –> Teumeutak (menetak)
*   Trom (terjang) –> Teumeutrom (menerjang)
*   Trôn (turun) –> Teumeutrôn (turun)

 
Share: