Pedoman Penulisan Fonetik Bahasa Aceh

Penulisan fonetik dalam bahasa Aceh terbagi menjadi vokal, vokal sengau, diftong, dan konsonan.

Kegigihan Sang Teuku Umar dalam Memperjuangkan Kemerdekaan

Bagi penggemar sejarah tentu anda akan tertarik untuk membaca buku ini, sebagaimana buku ini mengisahkan tentang berbagai peristiwa panglima aceh dalam memperjuangkan kemerdekaan...

Kebangkitan Bahasa dan Sastra Aceh

Harian Serambi Indonesia edisi, Jumat 16 Desember 2022 merilis berita dengan judul Mulai Dari Pemanfaatan Pangan Lokal Hingga Makna ‘Rateb Doda Idi’

Hermeneutika dan Positivisme Logis

Filsafat telah membawa perubahan yang begitu penting dalam dunia pendidikan.

FUNGSI DAN MAKNA ADVERBIA

FUNGSI DAN MAKNA ADVERBIA
Kata-kata Keterangan atau adverbia adalah kata –kata yang memberi keterangan tentang:
  1. Kata Kerja
  2. Kata Sifat
  3. Kata Keterangan
  4. Kata Bilangan
  5. Seluruh Kalimat
Kata keterangan secara tradisional dapat dibagi-bagi lagi atas beberapa macam berdasarkan artinya atau lebih baik berdasarkan fungsinya dalam kalimat, yaitu:
A.   Kata Keterangan Kualitatif (Adverbium Kualitatif)
Adalah Kata Keterangan yang menerangkan atau menjelaskan suasana atau situasi dari suatu perbuatan.
Contoh:    Ia berjalan perlahan-perlahan
                  Ia menyanyi lagu dengan suara nyaring
Biasanya Kata Keterangan ini dinyatakan dengan mempergunakan kata depan dengan + Kata Sifat. Jadi sudah tampak di sini bahwa Kata Keterangan itu bukan merupakan suatu jenis kata tetapi adalah suatu fungsi atau jabatan dari suatu kata atau kelompok kata dalam sebuah kalimat.

B.   Kata Keterangan Waktu (Adverbium Temporal)
Adalah keterangan yang menunjukkan atau menjelaskan berlangsungnya suatu peristiwa dalam suatu bidang waktu: sekarang, nanti, kemarin, kemudian, sesudah itu, lusa, sebelum, minggu depan, bulan depan, dan lain-lain.
Kata-kata seperti: sudah, telah, akan, sedang, tidak termasuk dalam keterangan waktu, sebab kata-kata tersebut tidak menunjukkan suatu bidang waktu berlangsungnya suatu tindakan, tetapi menunjukkan berlangsungnya suatu peristiwa secara obyektif.

C.   Kata Keterangan Tempat (Adverbium Lokatif)
Segala macam kata ini memberi penjelasan atas berlangsungnya suatu peristiwa atau perbuatan dalam suatu ruang, seperti: di sini, di situ, di sana, ke mari, ke sana, di rumah, di Bandung, dari Jakarta dan sebagainya.
Dari contoh-contoh di atas tyang secara konvensional dianggap Kata Keterangan Tempat, jelas tampak bahwa golongan kata ini pun bukan suatu jenis kata, tetapi merupakan suatu kelompok kata yang menduduki suatu fungsi tertentu dalam kalimat. Keterangan Tempat yang dimaksudkan dalam Tatabahasa-tatabahasa lama terdiri dari dua bagian yaitu kata depan (di, ke, dari) dan kata benda atau kata ganti penunjuk.

D.   Kata Keterangan Cara (Keterangan Modalitas)
Modalitas, keterangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan, mengenai perbuatan, keadaan, peristiwa atau sikap terhadap lawan bicaranya. Dapat berupa pernyataan kemungkinan, keinginan, keizinan.
Contoh modalitas mungkin, barangkali, sebaiknya, seharusnya, tentu, pasti, boleh, mau, ingin dan seyogyanya.
Contoh kalimat yang berisi keterngan modalitas
·         Saya ingin membantu korban kebakaran.
Jenis – jenis modalitas
1)    Modalitas internasional. Modalitas yang menyatakan keinginan harapan, permintaan, atau juga ajakan.
2)    Modalitas epistemik. Modalitas yang menyatakan kemungkinan, kepastian, dan keharusan.
3)    Modalitas deontik. Modalitas yang menyatakan kemampuan.

Contoh  keempat macam modalitas .
1)    Yanti ingin menunaikan ibadah haji.
2)    Kalau hujan nenek pasti pulang
3)    Kalau boleh tinggal disini sampai besok
kata-kata yang menjelaskan suatu peristiwa karena tanggapan si pembicara atas berlangsungnya peristiwa tersebut. Dalam hal ini subyektivitas lebih ditonjolkan. Keterangan ini menunjukkan sikap pembicara, bagaimana cara ia melihat persoalan tersebut. Pernyataan sikap pembicara atau tanggapan pembicara atas berlangsungnya peristiwa tersebut dapat berupa:
  1. Kepastian : memang, niscaya, pasti, sungguh, tentu, tidak, bukannya, bukan.
  2. Pengakuan : ya, benar, betul, malahan, sebenarnya.
  3. Kesangsian : agaknya, barangkali, entah, mungkin, rasanya, rupanya, dan lain-lain.
  4. Keinginan : moga-moga, mudah-mudahan.
  5. Ajakan : baik, mari, hendaknya, kiranya.
  6. Larangan : jangan.
  7. Keheranan : masakan, mustahil, mana boleh.
E.    Kata Keterangan Aspek
Bila kata Keterangan Modalitas memberi penjelasan tentang tanggapan pembicara atas suatu peristiwa, maka Keterangan Aspek menjelaskan berlangsungnya suatu peristiwa secara obyektif, bahwa suatu peristiwa terjadi dengan sendirinya tanpa suatu pengaruh atau pandangan dari pembicara. Keterangan Aspek dapat dibagi-bagi lagi, antara lain:
  1. Aspek Inkoatif: menunjukkan suatu peristiwa pada proses permulaan berlangsungnya. Contoh: Saya pun berangkatlah.
  2. Aspek Duratif: keterangan aspek yang menunjukkan bahwa suatu peristiwa tengah berlangsung: sedang, sementara.
  3. Aspek Perfektif: menyatakan bahwa suatu peristiwa telah mencapai titik penyelesaian: sudah, telah.
  4. Aspek Momental: menyatakan suatu peristiwa yang terjadi pada suatu saat yang singkat.
  5. Aspek Repetitif: menyatakan bahwa suatu perbuatan terjadi berulang-ulang. Contoh: Ia memukul-mukul anak itu. Dalam kata ‘memukul-mukul ' terkandung aspek repetitif, yaitu perbuatan memukul itu terjadi berulang-ulang.
  6. Aspek Frekuentatif: menunjukkan bahwa suatu peristiwa sering terjadi. Contoh: Dia sering ke mari.
  7. Aspek Habituatif: menyatakan bahwa perbuatan itu terjadi karena suatu kebiasaan. Contoh: Ia biasa membaca koran di bawah pohon itu.
Catatan: Tidak ada keharusan bahwa keterangan aspek itu dinyatakan dengan jelas oleh suatu kata keterangan. Suatu kata kerja misalnya, dengan sendirinya sudah mengandung suatu aspek tertentu, atau hubungan kalimat tertentu akan menghasilkan suatu aspek tertentu pula.

F.    Kata Keterangan Derajat (Keterangan Kuantitatif)
Adalah keterangan yang menjelaskan derajat berlangsungnya suatu peristiwa atau jumlah dan banyaknya suatu tindakan dikerjakan: amat, hampir, kira-kira, sedikit, cukup, hanya, satu kali, dua kali, dan seterusnya.
G.   Kata Keterangan Alat (Keterangan Instrumental)
Adalah keterangan yang menjelaskan dengan alat apakah suatu proses itu berlangsung. Keterangan semacam ini biasanya dinyatakan oleh kata dengan + kata benda.
      Ia memukul anjing itu dengan tongkat.
      Anak itu meraih buah dengan galah.
H.   Keterangan Kesertaan (Keterangan Komitatif)
Adalah keterangan yang menyatakan pengikutsertaan seseorang dalam suatu perbuatan atau tindakan.
      Saya pergi ke pasar bersama ibu.

I.      Keterangan Syarat (Keterangan Kondisional)
Adalah keterangan yang menerangkan terjadinya suatu proses di bawah syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi: jikalau, seandainya, jika, dan sebagainya.
J.    Keterangan Perlawanan (Keterangan Konsesif)
Adalah keterangan yang membantah sesuatu peristiwa yang telah dikatakan terlebih dahulu. Keterangan ini biasanya didahului oleh kata-kata meskipun, sungguhpun, biarpun, biar, meski, jika…sekalipun, biar… sekalipun.
K.Keterangan Sebab (Keterangan Kausal)
Adalah keterangan yang memberi keterangan mengapa sesuatu peristiwa dapat berlangsung. Kata-kata yang mnunjukkan keterangan sebab adalah: sebab, karena, oleh karena, oleh sebab, oleh karena itu, oleh karenanya, dan sebagainya.
K.   Keterangan Akibat (Keterangan Konsekuetif)
Adalah keterangan yang menjelaskan akibat yang terjadi karena suatu peristiwa atau pebuatan. Akibat adalah hasil dari suatu perbuatan yang tidak diharapkan atau yang tidak dengan sengaja dicapai, tetapi terjadi dalam hubungan sebab-akibat. Keterangan ini biasanya didahului oleh kata-kata: sehingga, oleh karena itu, oleh sebab itu, dan lain-lain.
L.    Keterangan Tujuan (Keterangan Final)
Adalah keterangan yang menerangkan hasil atau tujuan dari suatu proses. tujuan itu pada hakekatnya adalah suatu akibat, tetapi akibat yang sengaja dicapai atau memang dikehendaki demikian. Kata-kata yang menyatakan keterangan tujuan adalah: supaya, agar, agar supaya, hendak, untuk, guna, buat.
M.   Keterangan Perbandingan (Keterangan Komparatif)
Adalah keterangan yang menjelaskan suatu perbuatan dengan mengadakan perbandingan suatu proses dengan proses lain, suatu keadaan dengan keadaan yang lain. Kata-kata yang dipakai untuk menyatakan perbandingan itu adalah: sebagai, seperti, seakan-akan, laksana, umpama, bagaikan.
N.   Keterangan Perwatasan
Adalah keterangan yang memberi penjelasan dalam hal-hal mana saja suatu proses berlangsung, dan mana yang tidak: kecuali, hanya.
Kata keterangan (adverbia) adalah kategori yang dapat mendampingi adjektiva, numeralia, atau preposisi dalam kontruksi sintaksis (Kridalaksana, 1994). Kata keterangan adalah kata yang menerangkan (a) kata kerja dalam segala dungsinya, (b) kata keadaan dalam segala fungsinya, (c) kata keterangan, (d) kata bilangan, (e) predikat kalimat, tidak peduli jenis kata apa predikat itu, dan (f) menegaskan subjek dan predikat kalimat (Ramlan, 1991).  Berdasarkan beberapa pandangan tersebut, dapat dikatakan bahwa kata keterangan adalah kata yang memberi keterangan pada verba, adjektiva, nomina predikat, atau kalimat.
Kata keterangan dapat diketahui dari segi: (a) prilaku semantisnya, (b) prilaku sintaksisnya, (c) bentuknya (Alwi, et. al, 1998).
1)           Berdasarkan prilaku semantinya, adverbia dapat dibedakan atas delapan bagian, yaitu sebagai berikut.
a. Adverbia kualitatif, yaitu adverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan tingkat, derajat, atau mutu. Yang termasuk adverbia ini adalah kata-kata seperti paling, sangat, lebih, kurang.
b. Adverbia kuantitatif, yaitu adverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan jumlah. Yang termasuk adverbia ini antara lain, kata banyak, sedikit, kira-kira, dan cukup.
c.  Adverbia limitatif, yaitu adverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan pembatasan. Kata-kata, seperti hanya,
saja, dan sekadar termasuk contoh adverbia ini.
d.  Adverbia frekuentatif, yaitu adverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan tingkat kekerapan terjadinya sesuatu yang diterangkan adverbia itu. Kata-kata yang tergolong dalam adverbia ini adalah selalu, sering, jarang, dan kadang-
kadang.
e.  Adverbia kewantuan, yaitu adverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan saat terjadinya peristiwa yang diterangkan oleh adverbia itu. Yang termasuk adverbia ini, yaitu baru dan segera.
f.  Adverbia kecaraan, yaitu adverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan bagaimana peristiwa yang diterangkan oleh adverbia itu berlangsung atau terjadi. Yang termasuk adverbia kecaraan ini adalah bentuk-bentuk, seperti
diam-diam, secepatnya, dan pelan-pelan.
g.  Adverbia konstratif, yaitu adverbia yang menggambarkan pertentangan dengan makna kata atau hal yang dinyatakan sebelumnya.Yang termasuk adverbia konstratif adalah bahwa, malahan, dan justru.
h.  Adverbia keniscayaan, yaitu adverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan kepastian tentang keberlangsungan atau terjadinya hal/peristiwa yang dijelaskan adverbia itu. Yang termasuk adverbia keniscayaan adalah niscaya, pasti, dan tentu.
2)   Berdasarkan perilaku sintaksisnya, adverbia dapat dilihat dari posisinya terhadap kata atau kalimat yang dijelaskan oleh adverbia yang bersangkutan. Atas dasar itu, dapat dibedakan empat macam posisi adverbia dalam kalimat, yaitu sebagai berikut.
a.  Adverbia yang mendahului kata yang diterangkan
Contoh:
Adiknya lebih tinggi daripada si Hendra.
Jurang itu sangat curam.

b.  Adverbia yang mengikuti kata yang diterangkan
Contoh:
Cantik nian kekasihnya
Pakaiannya bagus sekali.

c.  Adverbia yang mendahului atau mengikuti kata yang diterangkan
Contoh:
Mobil itu amat mahal.
Kami segera pergi ke sekolah.

d.  Adverbia yang mendahului dan mengikuti kata yang diterangkan
Contoh:
Saya hanya makan beberapa potong roti.
Saya yakin bukan dia yang mengambil uang itu.

3)     Dari segi bentuknya, adverbia dapat dibedakan atas adverbia tunggal dan adverbia gabungan (Alwi, et. al, 1998)
a.  Adverbia tunggal
1)    Adverbia dasar
Contoh: Baru, hanya, lebih, hampir, saja, sangat, segera, selalu, senantiasa.

2)    Adverbia berafiks
Contoh: sebaiknya, sebenarnya, sesungguhnya, agaknya, biasanya, rupanya.

3)    Adverbia bereduplikasi
Contoh:
Diam-diam, lekas-lekas, pelan-pelan, tinggi-tinggi.

b.  Adverbia gabungan,
yaitu adverbia yang terdiri atas dua adverbia yang berupa kata dasar. Kedua kata dasar yang merupakan adverbia gabungan ada yang berdampingan dan ada pula yang tidak berdampingan.

1)    Adverbia berdampingan
Contoh: lagi pula, hanya saja, hampir selalu.
2)    Adverbia tidak berdampingan
Contoh
Hanya…….saja dalam ‘Kami hanya membaca saja.’
Sangat……sekali dalam ‘Wajahnya sangat cantik sekali.’
Share:

pantun do dodaidi

Allahai do dodaidi
Boh gadong bi boh kayee uteuen
Rayek sinyak hana peue ma bri
Ayeb ngon keuji ureueng donya kheun

Allahai do dodaidang
Seulayang blang ka putoh taloe
Beurijang rayek muda seudang
Tajak bantu prang tabila nanggroe

Wahe aneuk bek taduek le
Beudoh sare tabila bansa
Bek tatakot keu darah ile
Adakpih mate poma ka rela

Jak lon tateh, meujak lon tateh
Beudoh hai aneuk tajak u Aceh
Meubee bak on ka meubee timphan
Meubee badan bak sinyak Acheh

Allahai Po Ilahon hak
Gampong jarak hantroh lon woe
Adak na bulee ulon teureubang
Mangat rijang trok u naggroe

Allahai jak lon timang preuek
Sayang riyeuek disipreuek pante
'oh rayek sinyak nyang puteh meupreuek
Teh sinaleuek gata boh hate.



                                                                                                                        
Share:

Cae Aceh

Meukrue seumangat rahmat meusampe
Rincong meu uke hana le tajam
Yoh masa dile jithe le kafe
Rata sagoe be Aceh ji seugan

Cukop meu ceuhu makmu bukon le
Raja pih ade yang mat pimpinan
Rakyat seujahtra kuta deungon gle
Hana yang mate ngon tan makanan

Seuramoe Meukah meugah bukon le
Rata lungkiek gle na wase tambang
Kareuna Nanggroe bak jaroe jahe
Tuhan peu ade ka Neu cok pulang

Saboh alamat nikmat hana le
Karena jahe hana le so tham
Kareuna Raja ka dua hate Hukom yang ade hana le timang

Takaleon conto sampoe meupake
Meu poh poh mate seu sabe Islam
Rot noe ngon rot deh areh mat beude
Peuturot hate pakat peu ek prang

Rakyat sengsara rata sagoe be
Han so jeut jak le u gle ngon u blang Ladom seu numpok kabeh brok pade
Ladom dalam gle kabeh brok kacang

Bak tanggai 16 Agustus akhe
Rumbok Helsingke hanjeut le muprang
Ban dua pihak seureuntak sare
Meu jroh jroh hate hanjeut le dendam

Geutanda jaroe mentro ngon toke
Kateuhah hate RI dendon GAM
Hase M O U nanggroe Helsingke
Di Aceh beude sare ji reupang

Alif Ba goh jeut neuk bet Tapeuse
Rimung goh mate sare ka ta bang
Laba ngon rugo hana so pike
Peuturot hate ngon nafsu syaitan

Jalo goh leupah beulahdeh ji ile Goh troh u pante tanyoe jeu meurang
Ka laen macam ragam seu mike
Neuk duk keu toke dalam pikeran

Sumpah ngon janji ka ji peureule
Tan le meu pike keu rakan rakan Penteng bak jaroe moto B M W
Oh wate mate aleh pakiban

Hana so sangka si janda male Oh ban meulahe aneuk pih agam Rupa sep ceudah sulah meu uke
Su sinyak lahe mate ma bidan

Sinyak ka rayeuk jak jok u Meuse
Bek jeut keu kafe yu beut Qur’an
Ji beut hana roh gadoh meu jipre
Jijak meu rabe sabe tip malam

Rugo belanja meugunca pade
Peulandok pance ka meu sereuban
Peugah droe Tgk Abu ngon Toke Rata sago be sare meu utang

Lheuh tapoh buya ngon mata kawe
Singa dalam gle ka ji jeumeurang
Jino lam susah lempah meusampe
Hukom bak hate kon le aturan

Mandum ka teuga dak baro lahe
Mandum ka sabe tanle bawahan
Hana le meuri guci ngon bate
Sama seumike sare keumuran

Yang penteng troe prut pijut hana le
Meu keusut hate katroh tujuan
Meunyoe bak peugah gagah sang bace
Hareuga mate nanggroe cok pulang

Etno keuh haba kamo meu cae
Keu ubat hate mangat pikiran
Yang kamoe rawi buketi lahe
Aceh kareule tanle harapan
Share:

Fungsi kategori dan peran

Fungsi kategori dan peran
Kategori
Contoh
Rahmad Menerima Hadiah Nobel
 F:  S           P                         O
K :  N        V                           FN
P : Perun Perbuatan       Sasaran

Kami Sekeluarga Menunggu Kedatangannya
F :S                         P                            O
K : FN                    FV                           N
P : P                       Perbuatan           Sasaran

Dia menerima surat panggilan dari Jakarta kemarin sore
F :S         P               O                           ket
K : FN    FV              FPe                     FN


Jen is – jenis Peran
a.       Pelaku / Agen (orang yang melakukan tindakan)
*kuah plik u itu dimasak oleh ani
Sasaran pasif
Hadiah itu sudah diterima oleh rahmad
b.      Alat (yang dipakai untuk melakukan sesuatu)
*adik setiap hari diantar dengan mobil
c.       Asal (peran yang menyatakan makna asal menduduki fungsi onal keterangan)
*cincin itu terbuat dari emas
d.      Benefektif (peruntung) : verba partisipan yang mendapatkan keuntungan atas tindakan yang dilakukan oleh agen
*ibu membuatkan ayah kopi
e.      Lokatif (peran yang berkaitan dengan tempat)
Menjelang tidur hp disimpan dibawah meja belajar
f.        Penderita (sebab dari tindakan )
*razak memperkosa novy yang tertidur di kelas
g.       Penggangap (peran yang menerima rangsangan kognitif)
*Ayah sangat menyayangi kami sekeluarga
h.      Sasaran (perbuatan yang dinyatakan oleh predikat)
Mahasiswa angkatan terakhir itu sedang belajar bahasa English
i.         Pengalam mengalami keadaan atau peristiwa yang dinyatakan oleh predikat)
*masyarakat di aceh jaya kebanjiran
j.        Penyerta (menduduki fungsi keterangan dalam kalimat)
*bersama teman – teman kami berbuka puasa di  restoran itu.


Share:

Analisis Kalimat Berdasarkan Fungsi.


 A. Analisis Kalimat Berdasarkan Fungsi.
Fungsi ini barhubungan saling bergantungan antara unsur-unsur dari suatu perangkat sehingga perangkat itu merupakan keutuhan dan membentuk sebuah struktur (Kridalaksana, 2002). Fungsi bersifat sintaksis, artinya berkaitan dengan urutan kata atau frase dalam kalimat. Fungsi sintaksis yang utama dalam bahasa adalah predikat, subjek, objek, pelengkap, dan keterangan. Untuk dapat mengetahui fungsi unsur kalimat, terdapat ciri-ciri subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan.

1. Ciri-Ciri Subjek
Yang dimaksud dengan subjek adalah sesuatu yang dianggap berdiri sendiri, dan yang tentangnya diberitakan sesuatu(Putrayasa,2001). Dan terbentuk dari kata benda (mereka, rumah itu). Atau kata benda yang dipakai sebagai subjek atau yang dianggap sebagai kata benda. Misalnya :
- Jalanya
Akhir –nya di sini mengatakan kata benda, meskipun kata benda itu menyatakan suatu kerja.
- Berperang
Artinya hal perang, dianggap sebagai kata benda.
Untuk menentukan subjek, kita dapat bertanya dengan memakai kata tanya apa atau siapa di hadapan predikat.
Ciri-ciri subjek adalah :
a. Tentangnya diberikan sesuatu,
b. Dibentuk dengan kata benda atau sesuatu yang sibendakan, dan
c. Dapat bertanya dengan kata tanya apaatau siapa di hadapn predikat.      

2. Ciri-Ciri Predikat
Predikat adalah bagian yang memberikan keterangan tentang sesuatu yang berdiri sendiri atau subjek itu, yang menyatakan apa yang dikerjakan atau dalam keadaan apakah subjek itu.
Beberapa pendapat mengenai pengertian Predikat, diantaranya :
Menurut Bloomfield (1933). Menyebut predikat dengan verba vinit yang berarti melaksanakan perbuatan. Menurut Lyons dan Alieva (1995/1991). Predikat adalah keterangan mengenai orang atau barang, dengan istilah sebutan dengan makna yang sama. Menurut Ramlan (1996). Predikat adalah merupakan unsur klausa yang selalu ada dan merupakan pusat klausa karena memiliki hubungan dengan unsur-unsur lainnya yaitu, dengan S, O, dan K. Menurut Suparman (1988). Memberikan penjelasan predikat dengan menyebutkan ciri-ciri atau penanda formal dari predikat tersebut, yaitu :
a. Penunjuk aspek : sudah, sedang, akan, yang selalu ada didepan predikat.
b. Kata kerja bantu : boleh, harus, dapat.
c. Kata petunjuk modal : mungkin, seharusnya, jangan-jangan.
d. Beberapa ketengan lain : tidak, bukan, justru, memang, yang terletak diantara S, dan P, dan
e. Kata kerja kopula : ialah, adalah, merupakan, menjadi. Biasanya kata ini digunakan merangkaikan predikat nomina dengan S-nya, khusus FB-FB (Frase Benda-Frase Benda). 

3. Ciri-Ciri Objek
Objek adalah konstituen kalimat yang kehadirannya dituntut oleh predikat yang berupa verba transitif pada kalimat aktif, yang ojeknya diletakkan setelah predikat. Objek dapat dikenali dengan memprhatikan :
 
a. Jenis predikat yang melengkapinya, dan b. Ciri khas objek itu sendiri.
Dimana verba trabsitif ditandai dengan afiks tertentu. Sufiks –kan dan –i serta prefiks meng- merupakan verba transitif.
Contoh :
- Rudy Hartono menundukkan Icuk.
Objek berupa nomina atau frase nominal. Jika objek tergolong nomina, frase nomina tak bernyawa, atau persona ketiga tunggal, nomina objek itui dapat diganti dengan pronomina –nya; dan jika jika berupa pronomina aku atau kamu (tunggal), bentuk –ku dan –mu dapat digunakan.
Contoh :
- Andi mengunjungi Pak Rustam.
- Andi mengunjungi.
Objek pada kalimat aktif transitif akan menjadi subjek jika kalimat itu dipasifkan.
Contoh :
- Pembantu membersihkan ruangan saya.
S P O
- Ruangan saya dibersihkan oleh pembantu.
S P O 

4. Ciri-Ciri Pelengkap
Baik objek, maupun pelengkap sering berwujud nomina, dan keduanya juga sering menduduki tempat yang sama, yakni dibelakang verba (Alwi,et. Al, 1998).


Share:

Pantôn Aceh


  Pantôn Aceh 

Pantun merupakan bentuk puisi Indonesia (Melayu), tiap bait (kuplet) biasanya terdiri atas empat baris yg bersajak (a-b-a-b), tiap larik biasanya terdiri atas empat kata, baris pertama dan baris kedua biasanya untuk tumpuan (sampiran) saja dan baris ketiga dan keempat merupakan isi (KBBI), begitu juga dalam karya sastra aceh dikenal juga dengan pantun (Pantôn). Tak terlepas dari kaidah semantik, pantôn aceh juga memiliki syarat yang sama halnya yang terdapat dalam pantun bahasa Indonesia. Pembagian panton aceh juga dipisahkan antara umur penggunanya, diantaranya (Pantôn Aneuk Miet, Pantôn Aneuk Muda, dan Pantôn Uréng Tuha). 

Karya sastra aceh berupa pantun ini tidak bisa dipisahkan dengan tempat penggunanya, orang aceh sendiri sangat seksama menempatkan tempat dimana untuk membacakan pantun ini. Sehingga digolongkan menjadi : (Pantôn mu ba e ( duka cita), Pantôn ayôn (meninabobokan anak), aneuk, Pantôn uroe kiamat, Pantôn prang sabi, pantÔn meuratoh, Pantôn meulayeng, Pantôn mehoi, Pantôn meusenda (jenaka), Pantôn jaga tuloe (aneuk muda) Pantôn agama, Pantôn adat, Pantôn nasihat). Maksud yang diutarakan dalam panton aceh juga beragam, dahulu kala pantun ini digunakan untuk menyambut pasangan antar lintöé / dara baroé. Mereka saling berbalasan pantun, jika salah satu diantara mereka tidak ada yang kalah maka budaya berbalas pantun terus dilanjutkan hingga diantara mereka ada yang kalah, jika si tuan rumah kalah ketika berbalas pantun maka tamunya dipersilahkan masuk kerumah, namun adaikata si pengantar linto / darabaroe yang kalah. Maka mereka tidak diperkenankan masuk kerumah, dan kembali pulang kerumahnya. Namun mengingat banyak mudharat yang ditimbulkan budaya berbalas pantun (séumapa) maka tradisi lama ini tidak dipakai dan lebih ditinggalkan, meskipun ada, hanya sebatas membalas pantun biasa (Sastra Daerah Aceh

Jika ditinjau dari tipologi (bentuk penulisan) Pantôn aceh tidak ada yang menunjul selain tata letaknya yang monoton tidak ada berubah disebabkan pantun aceh adalah karya sastra lama (kontemporer). Namun ada satu sisi yang sangat menonjol dari Pantôn aceh dengan pantun bahasa Indonesia, berupa sajak dan permainan bunyi, jika pantun bahasa Indonesia
persajakannya terdapat di akhir kata, namun pantun aceh selain di akhir kata, sajaknya juga terdapat pada tengah kata itu sendiri. Sehingga yang membedakan antara pantun aceh dan Indonesia bisa kita temukan dengan jelas ketika membacakannya. 

Disisi lainnya pantun aceh juga terdapat buhu, pakok (persajakan, permainan bunyi), menjadi pola tersendiri bagi karya sastra aceh mengwajibkan menyisipi buhu, pakök tersebut, bisa kita temukan dalam karya sastra aceh berupa (hikayat, hiem, Pantôn, caé). Sebagai contoh saya sebutkan ; limong limong kapai jitamong dua go limong kapai jibungka nyo hantrok lon cot ngon reunong nyan bungong lon pupo geulawa (Pantôn aneuk muda) pada akhir kalimat kata jitamong, bunyi ong berulang kembali pada kalimat kedua di bagian tengah kata limong, selanjutnya pada persajakan kata jitamong berulang di akhir kalimat ketiga pada kata reunong. Pada persajakan selanjutnya, kalimat kedua berulang pada persajakan kalimat ke empat. Diantarnya kata jibungka yang terdapat pada akhir kalimat kedua berulang persajakan pada akhir kata kalimat ke empat geulawa Menyangkut persajakan, pantun aceh mempunyai pola persajakan yang sama dengan pantun yang digunakan dalam bahasa indonesia (ab,ab, aa, aa). 

sedikit susah membuat pantun aceh dibandingkan dengan pantun bahasa Indonesia, pertama harus mencocokan persajakan pada awal di akhir kata seterusnya kalimat dan di tengahnya untuk disesuaikan sajaknya, namun disitulah terdapat perbedaan yang sangat penting untuk membedakannya. “Jika pantun bahasa aceh menggunakan persajakan di akhir kata maka pantun tersebut tidak bisa dikatakan pantun aceh, tetapi lebih tepatnya pantun Indonesia berbahasa aceh”. Rahmad Nuthihar, Mahasiswa FKIP Unsyiah
Share:

Sastra Aceh


Sastra Aceh telah berkembang seiring zaman perkembangan peradaban dan sejarah dari abad ke abad, dan baru dikenal (disalin) pada abad ke 14, namun sastra lisan telah berkembang sejak Aceh dikenal pada abad ke 9. 

Jika ditilik perbedaan sejarah sangat jauh jangka panjang antara lisan dan tulisan. Namun,, belum tentu hal tersebut benar, mengingat tidak ada satu sejarapun mencatat perjalanan sastra tersebut secara detail dan rapi, kita hanya dihadapkan pada naskah Manuskrip Sejarah raja-raja Pasai yang menggambarkan keberadaan Kesultanan Pasai.
          Bisa disebutkan bahwa Aceh merupakan daerah pusat kebudayaan Islam sebab dari negeri ujung Sumatera pada awal menyebarkan Islam di seluruh Nusantara, termasu didalamnya Malaysia dan Pathani, paling tidak masih ditemukan di dua negara tersebut karya-karya para ulama-ualam Aceh. Maka tak pelak, jika bumi Seuramoe Mekkah ini banyak mewariskan beragam corak sastra Islami. Dari bumi serambi Mekkah juga asal muasal pembaharuan sastra Melayu Indonesia. Yang berpengaruh dan membawa perubahan terhadap sastra Melayu Indonesia. Daerah Aceh memiliki aset kekayaan genre (cabang ) sastra klasik (classic literature).

          Ciri-ciri umum karya sastra klasik adalah sama dengan ciri sastra lama yaitu: a) bersifat anonim (tidak memiliki nama pengarang), b) bercorak ragam lisan diceritakan dan dibicarakan dari mulut ke mulut, c) bersifat turun temurun antar generasi ke generasi, d) jika berupa puisi unsur ritma dan sajak lebih dominan.
Dalam ikon puisi lama menurut Razali Cut Lani dalam karyanya berjudul Kesusastraan Aceh, dikenal beberapa jenis sastra classic yaitu: narit maja (peribahasa), neurajah (mantra), hiem (teka-teki), dan panton (pantun). Semua genre sastra tersebut merupakan jenis sastra tertua dan purba dalam sejarah perkembangan sastra Aceh. Untuk lebih jelas ihwal sastra kuno genre puisi ini akan saya bahas secara runtut berikut ini:


1.Narit Maja (Peribahasa)
Dalam tradisi masyarakat Aceh narit maja berfungsi sebagai pengendalian pranata sosial (control sosial) dan sebagai sarana penyampaian pesan moral.
Dalam narit maja juga mengandung nilai-nilai pendidikan Islam. Seperti terdapat dalam narit maja berikut: hana patot aneuk murid lawan gure/ nyo kon seude teunte gila. Terjemahan bebasnya adalah tidak patut seorang murid melawan gurunya, kalau tidak senu tentu gila. Demikianlah peribahasa Aceh sarat dengan nilai-nilai keagamaan. Agar lebih jelas mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam narit maja, baca: Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Narit Maja,
oleh: Iskandar (Skripsi mahasiswa STAIN Malikussaleh Lhokseumawe) dan Struktur dan Fungsi Narit Maja dalam Masyarakat Jambo Aye Aceh Utara, oleh: Hilmi Wilminar (Skripsi Mahasiswa PBSID, FKIP, Universitas Syiah Kuala) dalam kedua karya ilmiah tersebut membahas dan mengupas secara tuntas tentang narit maja.
 Razali Cut Lani dalam Kesusastraan Aceh juga telah membahas berbagai hal yang terlibat dalam peribahasa Aceh. Seperti unsur flora dan fauna dalam narit maja, ekonomi, perdagangan, sosial, adat istiadat, moral, keagamaan, kriminalitas, dan hal-hal lainnya secara runtun.
Kita ambil salah satunya sebagai contoh perdagangan dalam narit maja. Misalnya terdapat dalam narit maja berikut:
Tulak tong tinggai tem. Arti bebasnya: dorong tong, tinggal kaleng. Dalam peribahasa ini mengandung pengertian bahwa dalam usaha dagang--jual beli--setelah diperkirakan laba rugi dalam hal ini tidak ada yang diuntungkan, tetapi hanya mencukupi modal saja.
Bidang kriminalitas yang membawa dampak bagi hajat hidup orang banyak. Masyarakat Aceh sering menyebut narit maja:
gop pajoh boh panah/ tanyo yang meugeutah. Terjemahan bebasnya: orang yang makan nangka, kita yang bergetah. Orang lain yang berbuat salah kita yang mendapat efek dari kriminalitas tersebut. Dalam tulisan ringkas ini saya tidak merincikan satu persatu narit maja tersebut, karena itu tugas pribadi anda dirumah (PR).


2. Neurajah (Mantra)
Neurajah merupan jenis sastra tertua setelah narit maja. Jika ada orang yang bertanya siapakah pemilik puisi jenis mantra ini?. Maka jawabannya adalah pawanglah yang menjadi penyair genre mantra, karena pada mulanya pawang mengucapkan mantra-mantra untuk menjinakkan harimau, gajah, tawon, dan lain-lain.

  
3. Hiem (Teka - Teki)
Masyarakat Aceh dalam keseharian sering kumpul bersam sanak keluarga dan kerabat untuk berteka - teki sejenak. Teka - teki dalam masyarakat Aceh selain sebagai hiburan juga menjadi arena asah otak, karena dalam teka - teki juga mengandung unsur pendidikan. Walaupun unsur humor lebih dominan. contoh (kebe jak taloe dong)


4.Panton (Pantun)
Bagian terakhir dari puisi classic Aceh adalah pantun. Puisi empat baris yang terdiri atas sampiran dan isi. Baris pertama dan kedua disebut sampiran. Baris ke empat dan lima namanya isi. Panton Aceh dan pantun Indonesia memiliki ciri-ciri sama. Bersajak ab, ab. Sama halnya dengan narit maja, neurajah, dan hiem yang sebenarnya juga terdapat dalam konteks ke-indonesia-an sastra. Cuma dalam tulisan ini saya hanya membicarakan dalam corak sastra ke-Aceh-an.
Contoh pantun:
limong limong kapai jitamong
dua go limong kapai jibungka/
nyo hantrok lon cot ngon reunong
nyan bungong lon pupo geulawa


5. Cae’ atau syair adalah jenis puisi liris.

Sementara itu dalam ikon genre prosa lama di Aceh dikenal dengan prosa liris (hikayat), legenda, fabel, haba jameun (cerita rakyat/kabar zaman).

1. Hikayat adalah jenis prosa lama walaupun ada juga pakar sastra yang menyatakan bahwa hikayat itu jenis puisi liris, karena tipografinya seperti syair dan bersajak.

 Jika dilihat dari unsur intrinsiknya hikayat lebih cocok disebut prosa. Mengingat dalam hikayat lebih dominan ditunjang oleh setting (latar), tokoh, watak (karakter), konfliks dll. Umumnya hikayat bersifat istanasentris, dan cerita raja-raja. Namun ciri utama hikayat adalah anonim (tidak memiliki nama pengarang) seperti umumnya sastra lama lainnya. Ada juga beberapa hikayat yang memiliki nama pengarang seperti hikayat Prang Sabi karya Teungku Syiek Pantee Kulu. Namun dalam tulisan ini saya tidak merujuk kepada ciri umum hikayat. Di Aceh sarat akan hikayat warisan indatu misalnya : hikayat Raja-Raja Pasai, dan hikayat Malem Diwa.


2. Legenda adalah jenis cerita turun temurun bercerita tentang asal usul suatu geografis (asal nama daerah, asal mula sebuah pulau dan sebagainya).

 Contoh: legenda Ahmad Rhangmanyang yang menjadi pulau batu di Aceh Besar atau legenda si anak durhaka Malin Kundang di Padang, Sumatera Barat, legenda Nyai Roro Kidul, Gunung Tankupan Perahu, Jaka Tingkir (di Jawa), legenda Paya Terbang, legenda Raja Bakoi (di Aceh Utara), puteri Pukes, Loyang Koro, Pengantin Atu Belah (di dataran Tinggi Gayo, Takengon), dan legenda Tapak Tuan (di Aceh Selatan).


3. Fabel adalah cerita yang ditokohkan oleh binatang.

Jikapun melibatkan tokoh manusia, namun tokoh binatang dalam cerita fabel lebih dominan. Dalam fabel binatang menjadi aktor utama walaupun tanpa disutradarai oleh manusia cerita tepap berjalan sukses. Karena memang demikianlah sebuah fabel dikisahkan. Contoh fabel yang terkenal adalah Sang Kancil dan Harimau, Lutung Kasarung, dan Kera Sakti.


4. Haba Jameun (cerita rakyat) adalah kabar zaman yang diriwatkan dari mulut kemulut. Secara turun temurun.

Jika ada cerita rakyat yang terkumpul dalam sebuah buku itu bukanlah milik penghimpun. Melainkan milik semua masyarakat dimana cerita rakyat tersebut berkembang. Sebagai penghargaan kepada penghimpun cerita ini disebut sebagai penyusun atau editor buku tersebut. Seperti kumpulan Kabar Zaman Dari Aceh karya LK. Ara. Cerita rakyat yang terkumpul dalam buku tersebut adalah milik masyarakat Aceh. Tetapi LK.Ara sangat berjasa dengan menerjemahkan cerita rakyat Aceh ke dalam Bahasa Indonesia.

Haba jameun biasanya selalu diawali dengan pembukaan seperti berikut ini: bak jameun dile, na sibak bak jambe di leun. Trep nibak trep broek rumoh tinggai sudep… na saboh kisah, yang artinya: pada zaman dahulu ada sebatang pohon jambu di depan rumah. Lama kelamaan rusak rumah tinggal panggang… ada sebuah kisah. Contoh haba jameun : Abu Nawas dan Aneuk Yatim.


Share:

Imbuhan dalam Bahasa Aceh

 
Pemakaian Imbuhan dalam Bahasa Aceh

Apabila kita abaikan bentuk-bentuk imbuhan kata ganti yang telah kita bahas sebelumnya, maka jumlah imbuhan dalam bahasa Aceh lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan jumlah imbuhan yang ada dalam bahasa Indonesia. Juga imbuhan dalam bahasa Indonesia lebih rumit dibandingkan dengan imbuhan dalam
bahasa Aceh.

            Bila dalam bahasa Indonesia dijumpai bentuk imbuhan yang menyatakan pelaku (awalan pe-) atau dalam bahasa Arab disebut faa‘il, maka dalam bahasa Aceh tidak dikenal imbuhan untuk menyatakannya. Juga tidak dijumpai bentuk imbuhan yang sepadan dengan imbuhan pe- -an, per- -an dan ke- an. Demikian pula halnya dengan
akhiran, tidak dijumpai dalam bahasa Aceh.

            Sehingga permasalahan utama dalam penerjemahan bahasa Indonesia ke dalam bahasa Aceh adalah bagaimana cara menerjemahkan ketiga gabungan imbuhan di atas, yaitu pe- -an, per- -an dan ke- -an. Misalkan bagaimana menerjemahkan kata penyatuan, persatuan dan kesatuan.
AWALAN

  1.    Awalan Meu-

Awalan meu- memiliki makna yang hampir sama dengan awalan ber- seperti dalam bahasa Indonesia. Awalan ­meu- berubah menjadi mu- apabila berjumpa dengan kata berawalan huruf /b/, /m/, /p/ dan /w/. Perubahan ini tidak terdapat pada semua dialek. Beberapa dialek tetap mempertahankan bentuk aslinya.

Awalan meu- memiliki beberapa makna, yaitu:
  1. Bentuk awalan dari kamoë (kami)

    Contoh:
    Meu + Jak –> Meujak (kami pergi)

Meu + Woë –> Muwoë (kami pulang)

  1. Menyatakan kepemilikan.

    Contoh:

    Meu + Bulèë –> Mubulèë (berbulu)

Meu + Inong –> Meuinong (beristri)


  1. Menyatakan melakukan suatu perbuatan yang terdapat pada kata dasar

    Contoh:

    Meu + Adèë –> Meuadèë (berjemur)

Meu + Langu –> Meulangu (berenang)

Meu + Rumpok –> Meurumpok (berjumpa)

Menyatakan suatu perbuatan yang tidak sengaja dilakukan.

Contoh:

Meu + Koh –> Meukoh (terpotong)
Meu + Rôk –> Meurôk (terkunci)
Meu + Tak –> Meutak (tertetak)
 Bedakan dengan kata “meu” yang bukan bentuk imbuhan !!!

Kata “meu” yang bukan imbuhan ditulis secara terpisah.

  1. Menyatakan “agak”

Contoh:

Meu kreuëh : Agak keras

Meu seu’ië    : Agak meriang

  1. Berarti “saja”

    Contoh:

    Meu jih hana, peuë lom lôn (Dia saja tidak ada, apa lagi saya)
  1. Awalan Peu-

            Awalan peu- memiliki makna yang hampir sama dengan awalan per- atau akhiran –kan di dalam bahasa Indonesia. Awalan ­peu- berubah menjadi pu- apabila berjumpa dengan kata berawalan huruf /b/, /m/, /p/ dan /w/. Perubahan ini tidak terdapat pada semua dialek. Beberapa dialek tetap mempertahankan bentuk aslinya. awalan ini menyatakan membuat jadi

Contoh:

            Peu + Grak –> Peugrak (menggerakkan)
            Peu + Kreuëh –> Peukreuëh (perkeras)
            Peu + Mirah –> Pumirah (membuat jadi merah)
            Peu + Na –> Peuna (memperada)

  1. Awalan Teu-

            Awalan teu- hampir semakna dengan awalan ter- dalam bahasa Indonesia. Awalan ini menyatakan suatu perbuatan yang telah terjadi.

Contoh:

            Teu + Lheuëp –> Telheuëp (tercabut)
            Teu + Cok –> Teucok (terambil)
            Teu + Koh –> Teukoh (terpotong)


  1. Awalan Si-

      Awalan si- semakna dengan awalan se- dalam bahasa Indonesia. Awalan ini menyatakan hitungan satu

Contoh:

            Si + Bak –> Sibak (sebatang)

            Si + Krak –> Sikrak (sepotong)

            Si + Ribèë –> Siribèë (seribu)


  1. Awalan Keu-

Awalan keu- hanya terdapat pada penggunaan bilangan bertingkat.

Contoh:

            Keu + Phôn –> Keuphôn (kesatu)

            Keu + Duwa –> Keudwa (kedua)

            Keu + Tujôh –> Keutujôh (ketujuh)

Harap dibedakan dengan kata keu sebagai kata depan yang berarti kepada/untuk.

Contoh:

*      Nyoë keu kah (ini untuk kau)
*      Keu soë lônjôk nyoë? (kepada siapa saya berikan ini?)

SISIPAN

  1. Sisipan -eun-

            Sisipan –eun- memiliki makna yang hampir serupa dengan akhiran -an atau per- + -an dalam bahasa indonesia.

Contoh:

*   Balah (balas) –> Beunalah (balasan)

*   Pajôh (makan) –> Peunajôh (makanan)

*   Sambat (sambung) –> Seunambat (sambungan)

*   Sipat (ukur) –> Seunipat (ukuran)


Untuk kata kerja yang berawalan /r/ dan /l/

*   Lakèë (minta) –> Neulakèë (permintaan)

*   Rajah (rajahan) –> Neurajah (rajahan)

*   Untuk kata kerja yang berawalan bunyi hidup

*   Ubah (ubah) –> Neuubah (perubahan)

*   Ujoë (uji) –> Neuujoë (cara/alat menguji)


Untuk kata kerja bersuku satu

*   Koh (potong) –> Neukoh (potongan)

*   Poh (pukul) –> Neupoh (pukulan/pembunuhan)

Cat:

Neukoh : Kependekan dari “keuneukoh”

Neupoh : Kependekan dari “seuneupoh”


  1. Sisipan -eum-

Contoh:

*   Pajôh (makan) –> Pumajôh / Seumajôh (memakan)

*   Piké (pikir) –> Pumiké / Seumiké (memikirkan)

*   Teunak (maki) –> Teumeunak (memaki)




Untuk kata kerja yang berawalan /r/ dan /l/

Contoh
  • Lakèë (minta) –> Meulakèë (meminta)

  • Rajah (rajahan) –> Meurajah (merajah)

Untuk kata kerja yang berawalan bunyi hidup

  • Ubah (ubah) –> Meuubah (mengubah)
  • Ujoë (uji) –> Meuujoë (menguji)


Untuk kata kerja bersuku satu

*   Cop (jahit) –> Ceumeucop (menjahit)
*   Koh (potong) –> Keumeukoh (memotong)
*   Poh (pukul) –> Seumeupoh (memukul)
*   Rhah (cuci) –> Seumeurhah (mencuci)
*   Tak (tetak) –> Teumeutak (menetak)
*   Trom (terjang) –> Teumeutrom (menerjang)
*   Trôn (turun) –> Teumeutrôn (turun)

 
Share: