Hai sobat RN kali ini kita akan membahas 3 fakta menarik pada masjid istiqal. Sobat pasti kebanyakan sudah tahu. Akan tetapi, bagi yang belum mengetahuinya silakan ditonton sampai habis video ini!
Pedoman Penulisan Fonetik Bahasa Aceh
Penulisan fonetik dalam bahasa Aceh terbagi menjadi vokal, vokal sengau, diftong, dan konsonan.
Kegigihan Sang Teuku Umar dalam Memperjuangkan Kemerdekaan
Bagi penggemar sejarah tentu anda akan tertarik untuk membaca buku ini, sebagaimana buku ini mengisahkan tentang berbagai peristiwa panglima aceh dalam memperjuangkan kemerdekaan...
Kebangkitan Bahasa dan Sastra Aceh
Harian Serambi Indonesia edisi, Jumat 16 Desember 2022 merilis berita dengan judul Mulai Dari Pemanfaatan Pangan Lokal Hingga Makna ‘Rateb Doda Idi’
Hermeneutika dan Positivisme Logis
Filsafat telah membawa perubahan yang begitu penting dalam dunia pendidikan.
Fakta Menarik Masjid Istiqlal
Hai sobat RN kali ini kita akan membahas 3 fakta menarik pada masjid istiqal. Sobat pasti kebanyakan sudah tahu. Akan tetapi, bagi yang belum mengetahuinya silakan ditonton sampai habis video ini!
Peribahasa Aceh tentang Leumo - Sapi
- Arti : Seperti lembu gigit/makan upih pinang
- Makna: Peribahasa ini ditujukan kepada manusia yang suka ikut-ikutan dalam mengerjakan sesuatu tanpa dilandasi dengan ilmu.
- Maksud: Dalam konteks kehidupan terdapat manusia yang diumpamakan seperti perilaku binatang ini, yaitu suka mencoba-coba suatu pekerjaan yang bukan bidang keahliannya, suka berspekulasi atas sesuatu yang belum tentu manfaatnya, dan sebagainya. Ibarat lembu yang sedang menggigit (makan) situek (upih pinang) yang baru jatuh dari pohon pinang, dilihat oleh lembu lain, dan lembu lain tersebut juga ingin ikut memakannya. Padahal situek tersebut tidak enak, sepat, dan alot sehingga harus segera ditinggalkan setelah terbukti benda tersebut bukan makanannya. Manusia bertipe seperti ini melakukan perbuatan bukan berasaskan ilmu yang dimiliki, melainkan hanya berdasarkan perasaan dan ikut-ikutan karena terpengaruh dengan apa yang dilakukan orang lain. Pada akhirnya, apa yang dilakukannya merugikan dirinya dan juga orang lain karena kebodohannya.
- Amanat : Landasi setiap pekerjaan dengan ilmu, bukan dengan perasaan karena perasaan tidak menjamin bahwa apa yang kita kerjakan itu benar! Bergurulah terlebih dahulu sebelum mengerjakan sesuatu!
- Arti : Seperti lembu diangkat dari sumur
- Makna : Peribahasa ini ditujukan kepada orang yang tidak tahu berterima kasih, tidak dapat membalas budi baik orang.
- Maksud : Dalam konteks kehidupan sehari-hari terdapat manusia yang wataknya diumpamakan seperti binatang vertebrata ini, yaitu tidak bisa berterima kasih atas jasa-jasa yang diberikan orang lain kepadanya. Ibarat seekor lembu yang terperosok jatuh ke dalam sumur tua di sebuah hutan, lalu diangkat oleh orang ke permukaan, dan selamatlah ia. Ketika sudah berada di permukaan, dan berdirinya sudah kokoh, orang yang mengangkatnya dari lubang sumur tersebut diseruduknya. Alih-alih memberikan sesuatu kompensasi kepada orang yang telah memberikan untung baik kepadanya, yang terjadi malah sebaliknya, tindakan yang merugikan. Orang seperti ini, dalam ungkapan bahasa Indonesia disebut “orang yang tidak tahu diuntung”. Amanat : Janganlah kita seperti “kacang lupa akan kulitnya”. Kenanglah jasa-jasa orang lain yang telah membuat kita nyaman, senang, dan bahagia!
- Arti : Seperti lembu tidur di bawah rumpun bambu
- Makna : Peribahasa ini ditujukan kepada orang yang bermalas-malas dalam bekerja. Maksud : Dalam konteks kehidupan sehari-hari terdapat manusia yang berperangai seperti binatang berlenguh dan pemamah biak ini, yaitu orang yang beretos kerja rendah. Waktunya lebih banyak digunakan untuk istirahat santaisantai ketimbang bekerja. Ibarat lembu yang sudah kenyang merumput, lalu mencari tempat berteduh, biasanya di bawah rumpun bambu karena di tempat teduh tersebut suasana adem dan berangin sepoi-sepoi (reului dan dirui). Lembu betah berlama-lama di tempat itu sambil memamah biak. Orang-orang seperti ini, kalau belum habis apa yang diperolehnya kemarin, belum mau mencari yang lain lagi hari ini.
- Amanat : Jangan sampai kita tergolong ke dalam orang yang bertabiat seperti lembu ini! Janganlah bersantai-santai dan cepat puas dengan suatu perolehan sementara. Bekerjalah dengan giat dan sungguh-sungguh demi produktivitas!
- Arti : Seperti lembu dicucuk hidungnya
- Makna : Peribahasa ini ditujukan kepada orang yang sangat mudah dikendalikan oleh orang lain. Maksud : Dalam konteks kehidupan sehari-hari terdapat manusia yang sudah seperti binatang yang kena tusuk hidungnya ini. Orang-orang terlalu loyal kepada manusia. Apa pun instruksi orang yang mempunyai otoritas tertentu, baik yang positif maupun yang negatif mau saja dilakukannya. Ibarat lembu yang dicucuk hidungnya, orang seperti ini sangat mudah dikendalikan ke mana pun oleh orang yang mempunyai otoritas karena dia memang berada pada posisi yang tidak menguntungkan. Orang seperti ini terlalu tunduk dan patuh kepada perintah manusia. Dia tidak kuasa menolak segala keinginan orang tersebut.
- Amanat : Sebagai orang yang mempunyai otoritas tertentu, janganlah kita berlaku otoriter dan egois dalam bersikap dan bertindak! Jangan sampai loyalitas dan dedikasi kita kepada manusia mengalahkan ketaatan kita kepada Allah Swt.!
- Arti : Lembu masuk rawa-rawa, kuda menegakkan ekor
- Makna : Peribahasa ini ditujukan kepada orang yang memiliki reaksi berlebih (berlaku lajak aktif) terhadap perkara yang bukan urusannya. Maksud : Dalam konteks kehidupan sehari-hari terdapat manusia yang memiliki karakter negatif seperti binatang tunggangan ini; terlalu jauh mencampuri urusan orang lain, padahal urusan tersebut tidak ada kaitannya dengannya; orang yang punya hajatan dia yang berlagak sibuk. Ibarat tabiat dua binatang yang diumpamakan itu, lembu dan kuda. Lembu merupakan salah satu binatang yang sering masuk ke rawa-rawa (paya). Untuk itu, ia perlu menegakkan ekornya agar tidak basah. Berbeda dengan kuda, ia merupakan binatang yang tidak lazim masuk ke rawa-rawa, maka ia tidak perlu menegakkan ekornya. Orang yang bertabiat seperti ini cenderung berlaku lajak aktif terhadap suatu hal yang tidak penting baginya atau tidak ada hubungan dengannya atau suka mengurus urusan orang lain yang bukan urusannya. Sementara urusannya terbengkalai. Ungkapan lain yang berkaitan dengan ini adalah buet gob bèk tarindu, meukeumat iku h’an ék tahila; gob mumèe geutanyo madeueng, gob kapcapli geutanyo keueueng.
- Amanat : Jangan suka mencampuri urusan orang lain di luar hak dan kewenangan kita!
- Arti : Seperti kita buang angin di bokong lembu
- Makna : Peribahasa ini ditujukan kepada orang yang tidak peduli atau tidak hormat terhadap sesuatu aspirasi.
- Maksud : Dalam konteks kehidupan sehari-hari terdapat orang yang memiliki karakter seperti binatang ini; apa pun yang disampaikan kepadanya tidak ada respons. Menyampaikan suatu aspirasi kepadanya meskipun ditampung, tak pernah ditindaklanjutinya. Ibarat kita mengentuti lembu, pasti lembu tersebut tidak merasa tidak nyaman dengan bau kentut kita. Tahu pun tidak bahwa kita telah mengentutinya. Orang seperti ini tidak hormat dengan kepentingan orang lain. Selain itu, ungkapan ini juga bermaksud bahwa orang seperti ini tidak pernah berubah dengan wejanganwejangan yang disampaikan kepadanya. Maksud ungkapan ini senada dengan ungkapan Indonesia anjing menggonggong kafilah berlalu.
- Amanat : Amalkan segala sesuatu yang baik yang disampaikan orang kepada kita! Tampung dan tindak lanjuti segala aspirasi yang disampaikan kepada kita!
- Arti : Seperti lembu diambil kutu babi (dari tubuhnya)
- Makna : Peribahasa ini ditujukan kepada orang yang asyik dan terlena dengan suatu kesenangan atau kenikmatan semu. Maksud : Dalam konteks kehidupan sehari-hari terdapat manusia yang kerap bersikap seperti lembu yang sedang menyingkirkan kutu babi yang menempel di tubuhnya ini. Orang seperti ini suka terlena dengan suatu keasikan, keenakan, dan kenikmatan semu yang sedang dinikmatinya. Demi memperturutkan hawa nafsunya, ia rela melanggar norma agama, adat, dan sosial. Konteks terdekat yang berkaitan dengan hal ini, antara lain, fenomena orang berpacaran. Meskipun di ruang terbuka di tempat-tempat umum, mereka sedikit pun tidak risih berasyikmasyuk atau bermesraan. Yang penting mereka dapat menikmati dunia ini sebebas-bebasnya atau senikmat-nikmatnya yang menurut mereka dunia memang diciptakan dan hanya milik mereka berdua. Ibarat lembu yang berkutu babi di sekujur tubuhnya, dia sangat kooperatif, tenang, diam, dan menikmati sekali jika ada orang yang mau menyingkirkan binatang penghisap darah itu dari tubuhnya, demi kenyamanan dirinya.
- Amanat : Janganlah kita terlena dengan suatu yang asyikasyik, yang enak-enak, dan yang nikmat-nikmat! Nikmati hiburan hidup ini sekadarnya saja untuk menetralisasi atau menghalau kepenatan di dalam jiwa!
Jurnal Gratis Bidang Bahasa, Sastra, dan Pendidikan: Silakan Kirimkan Tulisan Terbaik Anda!
1. Journal of Language and Literature
2. Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa merupakan media publikasi dan komunikasi hasil penelitian kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah di Indonesia yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta. Jurnal Widyaparwa terbit dua kali dalam setahun, yaitu bulan Juni dan Desember.
3. LLT Journal: A Journal on Language and Language Teaching
4. KANDAI
Kebangkitan Bahasa dan Sastra Aceh
Kebangkitan Bahasa dan Sastra Aceh
Harian Serambi Indonesia edisi, Jumat 16 Desember 2022 merilis berita dengan judul Mulai Dari Pemanfaatan Pangan Lokal Hingga Makna ‘Rateb Doda Idi’. Sebuah prestasi yang membanggakan kita semua kampus ‘Jantong Hatee Rakyat Aceh’, Universitas Syiah Kuala (USK) telah menghasilkan 118 guru besar/profesor. Tentu yang menarik bagi saya pribadi pada judul berita Serambi Indonesia tersebut adalah pengukuhan Yusri Yusuf sebagai profesor bidang bahasa dan sastra dengan riset berupa doda idi (syair pengantar tidur anak).
List Jurnal Bidang Bahasa, Sastra, dan Pendidikan yang Ada di Indonesia
Ingin Tembus Scopus, Begini Langkah-langkah yang harus Anda Lakukan
Proposal Lengkap Penelitian Dosen Pemula Bidang Bahasa yang Didanai oleh Kemdikbudristek
Metafora dalam Bahasa Aceh pada Media Sosial Instagram: Potensi dan Ancaman Ujaran Kebencian di Ruang Publik
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif dengan sumber data komentar warganet pada media sosial Instagram. Data diambil dari kolom komentar Instagram pada akun (1) @serambinews, (2) @haba_acehbarat, (3) @aceh.viral, dan (4) @acehworldtime. Keempat akun tersebut dipilih karena memiliki ribuan jumlah pengikut dan merupakan media sosial yang aktif memberikan informasi kepada pengguna Instagram. Data yang sudah dikumpulkan dianalisis secara kualitatif. Pengumpulan data penelitian dilakukan selama 4 bulan dan setiap komentar warganet akan dicatat setiap harinya.
Untuk memperoleh hasil analisis yang mendalam, teks kebahasaan tersebut dianalisis secara hermeneutik dan semantis (makna). Analisis secara hermeneutik dilakukan untuk menafsirkan teks agar lebih mendekati kebenaran universal dalam kehidupan sosial masyarakat [20]. Adapun analisis semantik digunakan karena kajian ini berusaha mengkaji distribusi kosa kata yang membentuk jaringan makna dan jaringan konseptual dalam sebuah medan semantik [21].
Teknik Penganalisisan Data
Penganalisisan data penelitian dilakukan dengan tahapan (1) menyalin komentar pengguna Instagram yang mengandung metafora (2) mengklasifikasikan jenis metafora dan fungsi tuturan, (3) membuat analisis, dan (4) penarikan simpulan. Klasifikasi ujaran kebencian disesuaikan dengan Tabel 1. Bentuk dan Tingkatan Ujaran Kebencian.
Kumpulan Dasar Hukum Terkait Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia merupakan bahasa negara Indonesia sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945. Penggunaan Bahasa Indonesia tersebut selanjutnya dijabarkan dalam Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, dan Peraturan Presiden. Untuk lebih lengkpanya terkait undan-undang dan peraturan perundangan penggunaan bahasa Indonesia silakan klik tautan di bawah ini.
Proposal Bidang Sosial yang Didanai oleh Kemdikbud
Penelitian ini berkaitan dengan manajemen kemitraan perguruan tinggi vokasi negeri dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) untuk meningkatkan keterserapan lulusan dalam dunia kerja di Kabupaten Aceh Barat. Studi kasus dilakukan pada Akademi Komunitas Negeri (AKN) Aceh Barat. Berdasarkan hasil pengamatan awal yang dilakukan di perguruan tinggi AKN Aceh Barat menunjukkan adanya masalah-masalah berkaitan dengan pelaksanaan program kemitraan yang belum berjalan secara efektif antara AKN Aceh Barat dengan DUDI sehingga menimbulkan tingkat keterserapan lulusan dalam dunia kerja menjadi tidak maksimal. Permasalahan ini juga dipengaruhi oleh terbatasnya jumlah DUDI di Kabupaten Aceh Barat sehinga beberapa programprogram kemitraan yang telah direncakan sebelumnya oleh AKN Aceh Barat tidak dapat dilaksanakan. Di samping itu, minimnya jumlah jumlah lowongan kerja untuk lulusan D-II juga menjadi salah satu permsalahan keterserapan lulusan ke dalam dunia kerja. Atas
dasar permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan suatu upaya dan strategi dalam mengembangkan dan menyelaraskan pengelolaan kemitraan antara AKN Aceh barat dengan DUDI sehingga mahasiswa akan memperoleh pengetahuan baik teori maupun paraktik yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja sehingga dapat bersaing dalam dunia kerja serta dapat memberikan manfaat terhadap DUDI karena memberikan peluang dalam mendapatkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan kompetensi yang diharapkan dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan yang diberikan oleh DUDI. Tujuan penelitian adalah 1). Mengetahui manajemen kemitraan AKN Aceh Barat dengan DUDI untuk meningkatkan keterserapan lulusan dalam dunia kerja di Kabupaten Aceh Barat, ditinjau dari aspek perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating) dan Pengawasan/pengendalian (controlling). 2). Mengetahui upaya dan strategi yang dapat dilakukan dalam mengembangkan dan menyelaraskan pengelolaan kemitraan antara AKN Aceh barat dengan DUDI, ditinjau berdasarkan lima syarat minimal link and match antara pendidikan vokasi dan dunia industri. 3). Mengetahui apa saja faktor pendukung dan faktor penghambat kemitraan antara AKN Aceh Barat dengan DUDI dalam meningkatkan keterserapan lulusan dalam dunia kerja. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan data kualitatif. Subjek penelitian dibagi menjadi dua, pertama pihak perguruan tinggi vokasi negeri dalam hal ini adalah AKN Aceh Barat , sedangkan pihak kedua adalah dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Luaran penelitian ini terbagi menjadi dua, yakni luaran wajib dan luaran tambahan. Luaran wajib penelitian ini adalah terpublikasinya artikel pada jurnal peringkat Sinta 3, Jurnal Public Policy sebagai luaran wajib. Adapaun hasil luaran tambahan penelitian ini adalah artikel pada conference/seminar internasional di pengindeks bereputasi (terbit dalam prosiding). Di samping itu, hasil penelitian ini nantinya juga akan membuat sebuah produk dalam bentuk dokumen berkaitan dengan alternatif solusi pemecahan masalah-masalah yang ada di AKN Aceh Barat tentang upaya dan strategi dalam mengembangkan dan menyelaraskan pengelolaan manajemen kemitraan perguruan tinggi AKN Aceh Barat dengan DUDI dalam meningkatkan keterserapan lulusan dalam dunia kerja. Selanjutnya, dokumen tersebut akan diserahkan kepada pihak-pihak yang dianggap memiliki keterkaitan dengan hasil penelitian sehingga dapat bermanfaat sebagai bahan evaluasi dan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan, diantaranya adalah perguruan tinggi vokasi di Aceh Barat, DUDI yang menjadi mitra AKN Aceh Barat dan pemerintah daerah Kabupaten Aceh Barat.
- Pembuatan kurikulum bersama dimana kurikulum tersebut harus disinkronisasi setiap tahun dengan industri.
- Pihak industri wajib memberikan guru atau dosen tamu. Minimal pengajaran dari dosen dan guru tamu ini dilakukan minimal 50 jam per semester.
- Pemberian magang kepada siswa SMK dan mahasiswa vokasi dari industri yang dirancang bersama.
- Sertifikasi kompetensi mahasiswa. Sertifikat dibutuhkan untuk menunjukan level kompetensi lulusan vokasi.
- Komitmen menyerap lulusan sekolah vokasi oleh industri (kemdikbud.go.id:2020) (5).
- Belum adanya keterlibatan DUDI dalam menyusun perencanaan kurikulum pembelajaran sehingga hal ini dapat menimbulkan tidak adanya sinkronisasi antara kebutuhan kompetensi yang diharapakan oleh DUDI terhadap hasil pembelajaran yang dilakukan di AKN Aceh Barat.
- Permasalahan lainnya juga ditemukan pada kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang dilakukan oleh mahasiswa AKN Aceh Barat. Berdasarkan data yang diperoleh dari observasi awal melalui wawancara dengan mahasiswa peserta PKL menunjukkan tidak semua mahasiswa mengalami pengalaman PKL sesuai dengan harapan. Beberapa mahasiswa tidak mendapatkan lokasi penempatan PKL yang sesuai dengan keahlian yang dimilikinya sehingga mahasiswa kurang percaya diri dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan di tempat PKL dan tentunya hal ini juga dapat menyebabkan menurunnya tingkat kepercayaan DUDI terhadap mahasiswa dalam meyelesaikan pekerjaan-pekerjaan di tempat PKL sehingga dapat mempengaruhi tingkat antusis DUDI dalam menyerap tenaga kerja yang berasal dari lulusan AKN Aceh Barat menjadi menurun.
- Berdasarkan informasi yang diperoleh melalui wawancara singkat terhadap beberap dosen di AKN Aceh Barat, mengatakan bahwa selama ini AKN Aceh Barat belum pernah melakukan kegiatan penyusunan rencana program PKL mahasiswa secara bersama-sama dengan DUDI sehingga tujuan-tujuan dari progam PKL tidak dapat tercapai sesuai dengan harapan bersama.
- Belum adanya pembuatan komiten bersama antara AKN Aceh Barat dengan DUDI dalam menyerap lulusan. Temuan permasalahan ini dapat dilihat dari dokumendokumen arsip tentang kerja sama AKN Aceh Barat. Permasalahan ini tentunya juga dapat berpengaruh tehadap rendahnya daya serap lulusan AKN Aceh Barat ke dalam dunia kerja.
- Di samping itu, berdasarkan LAKIP atau Laporan Kinerja AKN Aceh Barat tahun 2021, menunjukkan bahwa hambatan/kendala dan permasalahan yang dihadapi dalam upaya pencapaian target kesiapan kerja lulusan dikarenakan minimnya jumlah DUDI di Aceh Barat dan minimnya jumlah lowongan kerja untuk lulusan diploma dua (D-II) (6).
















/>
